JELAJAH NUSANTARA - Di lereng-lereng Gunung Bromo, waktu seakan berjalan lebih lambat. Dingin menusuk tulang di pagi buta, kabut tipis menggantung di atas ladang kentang, kubis, dan bawang prei. Di sinilah Suku Tengger hidup: bertani, berdoa, menjaga tanah dan langit seolah keduanya adalah warisan yang tak bisa ditawar.
Mereka tidak pernah ribut soal siapa paling modern. Tidak juga mengejar kota. Hidup mereka sederhana, tapi terikat oleh sebuah tali yang kuat: harmoni dengan alam dan tradisi.
Baca juga: 1001 Wajah Tengger
Setiap hari dimulai dengan tanah. Cangkul, bibit, dan doa. Laki-laki turun ke ladang, perempuan menyiapkan hasil panen untuk dijual ke pasar di Tosari atau Ngadas. Udara tipis tak jadi masalah. Mereka sudah berabad-abad hidup dengan ritme gunung.
Hasil bumi itulah denyut nadi mereka. Kentang dari Tosari terkenal besar, manis, dan awet. Wortel dari Ngadisari mengalir sampai ke pasar-pasar di Surabaya dan Malang.
Tapi ada yang lebih penting dari panen: keyakinan.
Setahun sekali, saat bulan penuh di puncak musim kemarau, mereka mendaki ke Pura Luhur Poten di kaki Bromo. Membawa hasil panen, ternak, bahkan sesajen bunga. Itulah Yadnya Kasada—ritual paling sakral, persembahan kepada Sang Hyang Widhi.
Dari ketinggian bibir kawah, mereka melarung persembahan ke dalam perut bumi. Sebuah cara untuk mengingatkan diri sendiri: hasil bumi ini bukan hanya milik manusia. Ada yang lebih besar dari mereka.
Dan ajaibnya, tidak ada rebutan. Tidak ada perebutan sesajen meski sebagian warga miskin biasanya menunggu di bawah jurang untuk mengambil apa yang bisa diselamatkan. Semuanya dianggap berkah.
Tengger bukan sekadar nama. Ia adalah sikap hidup. Ada yang bilang, kata itu berasal dari “teng” dan “ger”—teguh dan kokoh. Cocok untuk mereka yang sejak lama menjaga gunung dan sawah tanpa banyak gembar-gembor.
Mereka percaya leluhur mereka adalah keturunan Raden Kusuma, putra bungsu Raja Majapahit terakhir, Brawijaya V. Legenda itu masih mereka simpan dalam dongeng, dalam ritual, dalam cara menghormati tanah.
Baca juga: Semeru Tidak Hanya Gunung
Saya pernah bertanya kepada seorang petani di Ngadisari, “Mengapa masih setia tinggal di sini, padahal anak-anak muda banyak yang pergi ke kota?”
Ia tersenyum. “Kalau semua pergi, siapa yang menjaga gunung?”
Jawaban itu sederhana. Tapi tajam.
Hidup di lereng gunung bukan pilihan mudah. Tanah longsor, udara dingin yang menusuk, dan akses jalan yang terbatas jadi keseharian. Tapi mereka tidak pernah mengeluh. Mungkin karena gunung sudah dianggap ibu, bukan ancaman.
Tengger hari ini memang tidak lagi sesepi dulu. Wisatawan datang ribuan setiap hari. Jeep-jeep berjajar menuju Penanjakan. Kafe-kafe kecil tumbuh di Cemoro Lawang. Tapi di balik keramaian itu, kehidupan asli Tengger tetap berjalan: ladang yang ditanami, doa yang dipanjatkan, dan gunung yang dijaga.
Baca juga: Tiga Dunia di Satu Gunung
Mereka seperti menyimpan rahasia: bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Bahwa harmoni dengan alam bukan romantisme kuno, melainkan kebutuhan.
Gunung Bromo bisa saja jadi destinasi internasional. Tapi bagi orang Tengger, ia adalah rumah. Rumah yang tak sekadar ditempati, tapi dirawat dengan doa, dengan tanah, dengan tradisi.
Mungkin itu yang kita orang kota sering lupa. Kita melihat alam sebagai alat. Mereka melihatnya sebagai keluarga.
Di situlah letak kekuatan Suku Tengger: sederhana, tapi tak tergantikan.
Editor : Redaksi