Sejumlah mahasiswa asing memainkan permainan tradisional di YPPI Sutorejo Surabaya. (Foto: Istimewa)
JELAJAH NUSANTARA - Bagi YPPI Sutorejo, kelas tidak harus berbentuk papan tulis dan spidol. Hari itu kelas mereka berupa halaman sekolah. Bukunya adalah angklung. Pensilnya: gamelan. PR-nya? Membuat klepon bersama mahasiswa asing.
Sebanyak 34 mahasiswa dari sembilan negara datang. Dari Kanada sampai Kamboja. Dari Jepang sampai Pakistan. Mereka tidak hanya melihat. Mereka ikut bermain. Menari. Menabuh. Bahkan membentuk bulatan klepon dengan tangan sendiri.
“Pembelajaran mendalam memang harus masuk dalam segmen kehidupan anak-anak. Salah satunya kolaborasi,” kata Rony Poerwantoro, Kepala SMP YPPI-3 Sutorejo.
Rony memang tidak ingin anak-anaknya belajar budaya hanya dari buku. Ia ingin mereka berinteraksi langsung. Merasakan sendiri bagaimana “budaya” bisa menjadi bahasa internasional.
Kepala SD YPPI-IV, Wina Ayu Trisnawati, menambahkan satu lapis lain: bunga telang. Bunga biru itu mereka tanam sendiri. Lalu disajikan sebagai welcome drink. “Kami ingin memperkenalkan sesuai motto YBBI: Ecological Awareness,” katanya.
Wina punya cara unik membuat orang tua murid ikut terlibat. Anak-anak tampil menari. Orang tua mendukung. Bahkan mahasiswa asing pun ikut belajar gerakannya.
Seolah ada kesepakatan tanpa kata: budaya bukan sekadar warisan. Ia harus dihidupkan. Diperkenalkan ke dunia.
Dan di YPPI Sutorejo, budaya itu hadir bukan di panggung besar, melainkan dalam keseharian. Dalam permainan engklek. Dalam segelas teh telang. Dalam bulatan klepon.
Hari itu, halaman sekolah menjadi ruang belajar global. Tanpa batas negara. Tanpa sekat bahasa.
Editor : Redaksi