Suku Baduy (Foto: Istimewa)
JELAJAH NUSANTARA – Ribuan pasang kaki telanjang itu kembali menapak aspal Rangkasbitung. Jumat sore, 2 Mei 2025. Dari arah Jembatan Keong, mereka masuk kota. Hitam, biru donker, putih. Baju mereka sederhana, tapi maknanya lebih besar daripada kostum parade mana pun di dunia.
Sebanyak 1.769 warga Baduy turun gunung. Dari Kanekes. Dari pedalaman Lebak. Dari hutan yang mereka jaga mati-matian. Mereka datang bukan untuk menuntut, bukan untuk meminta. Tapi untuk memberi.
Seba yang Tak Pernah Lekang
Itulah Seba Baduy. Tradisi tahunan yang sudah berjalan entah sejak berapa abad lalu. Tradisi syukur. Tradisi hormat. Masyarakat adat menyerahkan hasil bumi buah, padi, sayur, madu kepada pemerintah. Bupati Lebak. Gubernur Banten.
Seakan ingin berkata: Kami menjaga hutan. Kami menjaga bumi. Dan inilah titipan kami untuk negeri.
Maka sore itu, jalan-jalan Rangkasbitung berubah jadi lautan manusia. Para pelajar berdiri berjejer. Warga kota ikut tumpah ruah. Mereka menyambut rombongan dengan sorak kecil tapi penuh khidmat. Prosesi itu disebut mapag—penjemputan.
Putih dan Hitam di Tengah Kota
Dari ribuan orang itu, mayoritas memang Baduy Luar. Baju mereka gelap. Hitam, biru donker. Ikat kepala batik di dahi.
Tapi mata orang-orang lebih terpaku pada kelompok kecil berpakaian putih. Mereka itulah Baduy Dalam. Celana pendek bermotif sulur gelap. Ikat kepala putih. Kaki telanjang. Tak satu pun sandal.
Langkah mereka pelan. Tapi kokoh. Seakan menegaskan: tradisi ini tak bisa digoyahkan.
Urang Kanekes, Bukan “Baduy”
Sesungguhnya mereka lebih suka disebut urang Kanekes. Nama desa mereka. “Baduy” hanyalah sebutan dari orang luar. Dari peneliti Belanda. Dari gunung dan sungai di utara sana. Tapi istilah itu terlanjur populer.
Bahasa sehari-hari mereka adalah Sunda dialek Baduy. Tapi jangan salah, saat bicara dengan orang luar, mereka bisa berbahasa Indonesia dengan fasih.
Hanya saja, ada yang selalu mereka tolak: pendidikan formal. Sekolah dianggap mengganggu adat. Maka tak ada bangunan sekolah di desa mereka.
Komunitas Kanekes terbagi dua.
Baduy Dalam mereka yang paling ketat. Tinggal di tiga kampung inti: Cibeo, Cikeusik, Cikertawana. Hidup mereka tanpa listrik, tanpa kendaraan, tanpa alas kaki. Bahkan rumah harus menghadap utara atau selatan. Pakaian harus ditenun sendiri. Putih dan hitam.
Baduy Luar ebih terbuka. Masih pegang adat, tapi tak menolak elektronik. Mereka boleh pakai pakaian modern bernuansa gelap. Mereka bahkan menerima tamu. Wisatawan bisa menginap di rumah mereka.
Itulah mengapa ribuan orang yang turun ke Rangkasbitung sore itu kebanyakan dari kelompok luar. Baduy Dalam jumlahnya jauh lebih sedikit. Tapi justru merekalah inti jiwa tradisi ini.
Pantangan yang Tak Bisa Ditawar
Bagi Baduy Dalam, ada tujuh larangan utama.
Tidak pakai sabun, sampo, pasta gigi.
Tidak merokok.
Tidak pakai barang elektronik.
Tidak naik kendaraan bermotor.
Tidak pakai alas kaki.
Pintu rumah wajib utara-selatan.
Dan pakaian harus hasil tenun sendiri.
Bagi tamu pun ada larangan.
Menginap maksimal satu malam.
Tidak boleh memotret.
Tidak boleh mandi dengan sabun.
Aturan itu bukan sekadar formalitas. Itu adalah cara menjaga kesucian hidup.
Kota yang Tiba-Tiba Menjadi Desa
Di Rangkasbitung, suasana sore itu unik. Kota terasa seperti desa. Bupati Lebak menerima mereka dengan wajah serius. Ada penghormatan, ada rasa kagum, ada rasa tanggung jawab.
Karena apa yang mereka bawa bukan sekadar hasil bumi. Tapi pesan besar: jangan ganggu hutan kami.
Mereka memang tidak berteriak. Tidak membawa spanduk. Tidak membuat orasi. Tapi langkah kaki telanjang itu jauh lebih keras suaranya dibanding toa mana pun.
Refleksi di Balik Seba
Seba Baduy adalah simbol relasi unik antara adat dan negara. Negara modern dengan listrik, jalan tol, internet berhadapan dengan komunitas yang menolak itu semua. Tapi tetap ada penghormatan. Ada dialog tanpa kata.
Pertanyaan selalu muncul: sampai kapan tradisi ini bisa bertahan? Sampai kapan Kanekes bisa menjaga batas dari dunia luar?
Mungkin jawabannya ada pada wajah-wajah putih itu. Wajah anak-anak Baduy Dalam yang ikut berjalan tanpa alas. Mereka masih kecil. Tapi langkah mereka mantap. Seperti menegaskan: tradisi ini akan hidup lebih lama dari yang kita kira.
Editor : Redaksi