Artsubs 2025
JELAJAHNUSANTARA.CO – Di kota yang lebih dikenal dengan jalan tol, taman tematik, dan pertumbuhan properti yang masif, sebuah keajaiban kecil tapi berarti muncul di Balai Pemuda. Bukan gedung megah baru, melainkan ruang imajinasi: ARTSUBS 2025, museum seni rupa temporer pertama di Surabaya yang justru lahir bukan dari pemerintah, melainkan dari para seniman, kurator, dan warga yang cinta pada seni.
“Ini bukan sekadar pameran. Ini perlawanan halus, tapi nyata,” kata Ika Putri, salah satu inisiator ARTSUBS. Ia bicara sambil duduk di antara instalasi seni berbahan limbah industri. “Kami ingin menunjukkan bahwa kota ini juga bisa punya museum seni rupa. Tidak harus tunggu negara datang.”
ARTSUBS singkatan dari Art Substation Surabaya mengambil alih salah satu bangunan tua di kompleks Balai Pemuda sejak awal Agustus. Ruang yang dulunya digunakan untuk latihan teater dan kadang-kadang kosong itu disulap menjadi galeri interaktif dengan berbagai karya kontemporer, mulai dari patung, lukisan, fotografi, hingga media baru seperti video art dan seni suara.
Tidak Ada APBD, Hanya Gotong Royong
Tidak ada dana APBD yang mengalir. Tidak ada bantuan Kementerian. ARTSUBS dibangun dengan sistem patungan, dari tiket masuk yang terjangkau, sumbangan sukarela, serta kolaborasi dengan UMKM kreatif lokal yang ikut meramaikan ruang pamer. “Semua yang terlibat, dari lighting, sound, penjaga, hingga pengarsip, adalah warga. Mereka bergilir jaga dan berbagi peran,” ujar Nirwan Dewanto, kurator utama ARTSUBS 2025.
Proyek ini juga mengusung semangat keberlanjutan. Hampir semua properti pameran dibuat dari barang daur ulang. Bahkan panggung diskusi dan workshop-nya dibangun dari kayu palet bekas. "Ini museum, tapi juga panggung pertemuan. Anak-anak SMA bisa duduk berdiskusi bareng perupa dan aktivis kota," tambah Nirwan.
Seni sebagai Suara Kota
Tema ARTSUBS tahun ini adalah “Kota yang Tak Didengar”. Karya-karya yang ditampilkan banyak mengangkat isu urban: banjir, gentrifikasi, pembangunan yang menggusur sejarah, dan alienasi di kota besar. Salah satu karya paling mencolok adalah instalasi ruang tidur kecil yang dibangun di bawah tangga, menggambarkan realitas para pekerja informal di pusat kota.
ARTSUBS juga mengadakan program publik setiap akhir pekan: tur kuratorial, pemutaran film eksperimental, hingga kelas seni gratis untuk anak-anak. Tidak sedikit orang tua yang datang bukan karena paham seni, tapi karena anaknya ingin “melukis di museum.”
“Ini pertama kalinya saya lihat karya seni yang saya ngerti maksudnya,” kata Bu Sari, warga Rungkut, yang datang bersama dua anaknya. “Biasanya kalau ke galeri, bingung. Tapi di sini, dijelaskan dan bisa tanya-tanya.”
Kota dan Imajinasi Baru
Keberadaan ARTSUBS 2025 bisa jadi bukan jawaban akhir atas minimnya museum seni rupa di Surabaya. Tapi ia memberi harapan. Bahwa dengan daya, bukan dana, warga bisa membangun ruang yang menyuarakan hal-hal yang tak terdengar. Kota ini akhirnya punya museum sementara yang meninggalkan kesan tetap.
“Kalau ini bisa hidup tanpa APBD, bayangkan jika didukung secara serius,” ujar Ika sambil tersenyum. “Seni bukan cuma urusan galeri mahal. Ia adalah bagian dari cara kita memahami kota ini.”***
Editor : Redaksi