Goa Maria Wening Kalbu. (Foto: Wibowo/Jelajah Nusantara)
JELAJAH NUSANTARA - Gunungkidul. Langit siang seperti biasa: cerah, diam, dan bersahaja. Tapi tidak dengan langkah kaki saya. Lutut mulai protes setelah anak tangga ke-157. Nafas tersengal. Tapi di depan saya, Patrick Cahyo Lumintu masih berjalan seperti orang yang hafal benar jalan menuju surga.
“Ayo senior,” katanya sambil tertawa ringan.
Kami sedang menaiki 251 anak tangga menuju Goa Maria Wening Kalbu. Lokasinya di Dusun Wonosari, Desa Jurang Jeru, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul, Yogyakarta. Tempat ini memang bukan Lourdes. Tapi cerita cahayanya tidak kalah terang.
Patrick Cahyo Lumintu meletakan lilin di goa maria
Wening Kalbu. Artinya bening hati. Namanya seperti lagu lawas, tapi maknanya dalam: tempat orang menaruh resahnya, membasuh batinnya, menyampaikan harapnya.
Goa ini bukan goa biasa. Patrick membuka cerita ketika kami sampai di puncak tangga. Napas saya belum sepenuhnya pulih. Tapi saya tak ingin melewatkan sepatah kata pun.
“Dulu, ayah saya melihat cahaya di sini,” katanya. “Tepat di tempat gua ini sekarang berdiri.”
Ayahnya bernama Thomas Sukdianto. Tahun 2015, saat tanah ini dijual karena alasan ekonomi, justru kejadian itu terjadi. “Cahayanya muncul tiga kali,” lanjut Patrick. “Pertama samar. Kedua menyilaukan. Ketiga, diam.”
Patrick Cahyo Lumintu membersihkan goa maria
Thomas menjualnya. Ia membangun sebuah gazebo kecil untuk tempat doa. Tapi longsor menelan gazebo itu. Seperti memberi peringatan: bahwa tempat ini bukan sekadar tempat duduk. Ini tempat sujud.
Setelah itu, Paroki Santo Petrus dan Paulus Kelor meresmikan Goa Maria ini pada 2018. Tapi seperti hidup manusia, perjalanan gua ini pun tidak selalu naik. Vakum selama tiga tahun, dari 2019 hingga 2022. Sepi. Sunyi. Seperti kembali ke asalnya: goa dan doa.
“Satu tahun cuma 50 orang yang datang, mas,” kata Patrick. “Padahal setiap anak tangga ini seperti doa yang dipanjatkan.”
Thomas Sukdianto
Saya menengok ke belakang. Melihat 251 anak tangga tadi. Panjang. Terjal. Tapi setelah sampai di puncak, terasa ringan. Seperti dosa yang dikurangi perlahan, satu demi satu.
Sekarang jumlah pengunjung mulai meningkat. Tidak banyak memang. Tapi cukup untuk membuat Wening Kalbu tidak merasa kesepian.
Mungkin ini karena cerita cahayanya. Mungkin karena udara Gunungkidul yang bersih. Atau karena ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan oleh logika tapi bisa dirasakan oleh hati.
251 anak tangga menuju goa maria
Saya menuliskan ini sambil duduk di depan gua. Patung Maria berdiri tenang. Diapit bebatuan. Di depannya ada lilin kecil yang belum menyala. Tapi sinarnya sudah muncul di dalam dada saya.
Wening Kalbu. Mungkin memang tidak bisa dijelaskan. Tapi bisa ditemukan. Setelah 251 langkah. Dan satu keyakinan.
Bahwa cahaya memang kadang muncul di tempat yang paling tidak kita duga.
Editor : Redaksi