x jelajahnusantara.co skyscraper
x jelajahnusantara.co skyscraper

Museum yang Menyala di Tengah Kota: Cerita Tak Pernah Padam dari 10 November

Avatar jelajahnusantara.co
Wibowo
Senin, 19 Mei 2025 07:57 WIB
Pariwisata

JELAJAH NUSANTARA - Setiap kota punya jantung sejarahnya sendiri. Di Surabaya, jantung itu berdetak kencang di Jalan Pahlawan. Di sanalah ia berdiri. Tinggi, kokoh, dan tajam: Monumen Tugu Pahlawan. Paku raksasa yang ditancapkan ke langit, seolah menegaskan bahwa tanah ini pernah dididihkan oleh darah dan tekad.

Tepat di bawahnya, ada satu tempat yang seharusnya jadi wajib kunjung. Museum 10 Nopember. Jangan bayangkan museum yang berdebu dan bisu. Ini bukan museum tua yang malas merawat dirinya. Ini museum yang bercerita. Yang berbicara. Bahkan yang bisa berteriak.

Aku datang ke sana di Hari Museum Sedunia. Tanggal 18 Mei. Tak sendiri. Ada banyak orang. Dari Surabaya, dari luar kota, bahkan dari luar negeri. Satu yang kutemui: Jeany, dari Jakarta. Ia tersenyum sambil memegang kamera. "Museumnya aesthetic, Pak. Tapi lebih dari itu, ceritanya dalam," katanya. Ia sedang membidik foto di depan diorama pertempuran.

Museum ini memang punya dua lantai. Tapi sejatinya, ia punya ribuan kenangan. Di lantai pertama, kau diajak menyusuri lorong waktu—ke masa ketika kota ini menjerit, tapi tak menyerah. Di lantai dua, kau akan bertemu senjata-senjata yang dulu dipegang tangan-tangan kecil, tangan yang kini mungkin telah tiada, tapi semangatnya menetas di dinding-dinding museum.

Koleksi foto lawas, mata uang zaman revolusi, artefak yang tak bisa ditemukan di tempat lain. Tapi lebih dari itu semua: museum ini punya energi. Ia bukan ruang mati. Ia menyala.

Dan kini, ia juga lebih ramah. Di beberapa koleksinya, sudah ada narasi dalam huruf braille. Petunjuk arah juga dilengkapi braille. Bahkan toilet pun sudah inklusif. "Ini bagian dari komitmen kami untuk menjadikan museum terbuka untuk semua," kata Saidatul Ma'munah, Kepala UPTD Museum.

Saya terdiam sejenak melihat sekelompok anak sekolah tertawa kecil di depan patung Bung Tomo. Mereka membaca, mendengar, lalu berdiskusi. Ada semacam kehangatan yang tak bisa dijelaskan. Museum ini bukan hanya tentang masa lalu. Tapi tentang bagaimana kita mendidik masa depan.

Dan seperti biasa, Surabaya tidak pernah setengah-setengah. Tiket masuk museum ini hanya Rp8.000. Tapi nilai yang didapat, tak terhitung.

Jika kau ke Surabaya, jangan hanya cari rawon dan lontong balap. Datanglah ke Museum 10 Nopember. Lihatlah sejarah yang hidup. Dengarlah suara yang tak pernah padam. Karena di sini, Surabaya masih berperang—bukan dengan senjata, tapi dengan ingatan.

Editor : Redaksi

Artikel Terbaru
Jumat, 16 Mei 2025 18:06 WIB | Foto
JELAJAH NUSANTARA — Di tengah terik matahari yang menyengat, suara ketukan palu dan gesekan gergaji terdengar bersahut-sahutan dari Kampung Nelayan Lumpur, G ...
Rabu, 14 Mei 2025 05:39 WIB | Pariwisata
Keindahan alam Tulungagung kian memikat hati wisatawan, salah satunya lewat pesona Pantai Sine yang terletak di Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir ...
Selasa, 13 Mei 2025 14:05 WIB | Feature
Mereka tidak membangun wahana, tidak membuka gerai, tidak mengejar viralitas ...