x jelajahnusantara.co skyscraper
x jelajahnusantara.co skyscraper

Tomboan: Di Sini Kita Tidak Sekadar Berkunjung, Tapi Belajar Pulang

Avatar jelajahnusantara.co
Wibowo
Selasa, 13 Mei 2025 14:05 WIB
Feature

JELAJAH NUSANTARA - Di tengah derasnya pembangunan dan wisata instan yang mengedepankan daya tarik visual, Dusun Nanasan di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, justru mengambil jalan berbeda. Mereka tidak membangun wahana, tidak membuka gerai, tidak mengejar viralitas. Mereka menjaga. Dan dari penjagaan itu, lahirlah Tomboan Ngawonggo.

Dikelola langsung oleh warga sejak tahun 2020, Tomboan bukan sekadar ruang terbuka atau tempat pelesir. Ia adalah bukti bahwa pelestarian budaya dan alam bisa dilakukan tanpa anggaran besar, tanpa intervensi korporasi, dan tanpa mengorbankan identitas lokal.

Berawal dari penelitian Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur pada 2017, ditemukan situs peninggalan Mpu Sindok, raja Mataram Kuno abad ke-10. Ada yoni, ada petirtaan kuno. Situs ini selama ratusan tahun tertutup semak. Lalu warga memutuskan: ini bukan untuk dikomersialkan. Ini untuk dihidupkan.

Dengan gotong royong, mereka membuka akses jalan, membersihkan area, dan mulai mengundang orang datang—bukan untuk berswafoto, tapi untuk belajar. Tentang sejarah. Tentang lingkungan. Dan tentang hidup sederhana.

“Kami tidak ingin tempat ini jadi pasar,” kata Fatkhur Rozi, salah satu pengelola. “Kami ingin Tomboan jadi ruang edukasi.”

Pola kunjungannya unik. Tidak ada tiket. Tidak ada tarif. Hanya ada satu kotak kecil bertuliskan: “Bayar seikhlasnya.” Yang dijual di sini bukan produk, melainkan pengalaman. Rasa tenang, rasa syukur, dan rasa pulang.

Menu makanan disajikan oleh ibu-ibu desa dalam tampah bambu dan daun pisang. Emblem, tiwul, ongol-ongol, dan wedang uwuh semuanya buatan rumahan. Tidak ada plastik. Tidak ada limbah. Sistem pengolahan sampah mandiri sudah berjalan. Mulai dari kompos, daur ulang, hingga produksi eco-enzyme.

Kegiatan warga tidak berhenti di situ. Anak-anak muda dilibatkan dalam pengelolaan taman, dokumentasi sejarah, hingga penyuluhan lingkungan. Para lansia menyumbang cerita, pengalaman, dan resep-resep lokal yang hampir punah.

Tomboan menjadi bukti: destinasi tidak harus dibangun, tapi bisa ditumbuhkan. Ia bukan hasil investasi modal, tapi hasil investasi nilai.

Dan yang paling penting, Tomboan memberi ruang bagi masyarakat untuk berdaulat atas sejarah dan lingkungannya sendiri tanpa kehilangan kearifan lokal, tanpa tergoda gegap-gempita pariwisata modern.

Editor : Redaksi

Artikel Terbaru
Jumat, 09 Mei 2025 21:23 WIB | Foto
JELAJAH NUSANTARA - Warga tampak antusias mengamati patung Buddha dan Mahamaya, yang juga dikenal sebagai Ratu Shakya, ibu dari Siddhartha Gautama, di sebuah ...
Jumat, 09 Mei 2025 11:54 WIB | Budaya
Tak hanya menjadi ritual keagamaan, perayaan ini juga memancarkan nilai spiritual, budaya, dan sejarah yang mendalam. ...
Rabu, 07 Mei 2025 22:03 WIB | Foto
JELAJAH NUSANTARA - Setiap tahun menjelang Hari Raya Waisak, suasana khusyuk dan penuh kekhidmatan menyelimuti area Maha Vihara Mojopahit di Desa Bejijong, ...