x jelajahnusantara.co skyscraper
x jelajahnusantara.co skyscraper

Viral Satu Paragraf vs Jurnalis Seribu Kata

Avatar jelajahnusantara.co
Wibowo
Rabu, 27 Agu 2025 07:32 WIB
Gaya Hidup

JELAJAH NUSANTARA – Di era ketika setiap orang bisa menjadi “penyampai berita” lewat gawai di tangannya, kebenaran justru semakin rapuh. Hoaks, disinformasi, hingga potongan konten viral tanpa konteks terus membanjiri lini masa media sosial. Di tengah situasi itulah, peran jurnalis kembali dipertanyakan: masihkah mereka relevan?

Jawaban atas pertanyaan itu mengemuka dalam acara “Jagongan Bareng” yang digelar Rumah Literasi Digital (RLD) di Jalan Kacapiring No. 6, Surabaya, Selasa (26/8/2025). Forum diskusi ini menegaskan kembali: jurnalis adalah benteng terakhir literasi digital masyarakat.

Jurnalis Bukan Lagi Satu Arah

Pakar komunikasi, Dr. Dra. Zulaika, M.Si., membuka diskusi dengan pandangan yang menggugah. Menurutnya, jurnalis di era digital tidak bisa lagi hanya menjadi corong informasi satu arah.

“Kalau selama ini wartawan hanya menyampaikan berita, sekarang harus jadi komunikator. Masyarakat bisa berdialog, bisa bertanya langsung, agar tidak tersesat oleh informasi palsu,” tegas Zulaika.

Ia menyoroti fenomena konten viral yang mendominasi ruang digital. Banyak di antaranya hanya berupa satu paragraf singkat, tetapi mampu menyulut emosi publik tanpa memberikan kedalaman informasi.
“Viral itu seringkali dangkal. Tugas jurnalis adalah memberi kedalaman, tetap ringkas tapi akurat dan utuh,” tambahnya.

Menurut Zulaika, ancaman terbesar bukan sekadar hoaks, melainkan kaburnya batas antara jurnalisme profesional dan konten media sosial.
“Beda dengan kreator konten, jurnalis bekerja untuk lembaga dengan kode etik. Kredibilitas itu harus dijaga, jangan sampai bercampur dengan kepentingan pribadi,” jelasnya.

Generasi Z, Paling Aktif tapi Rentan

Senada dengan itu, Dr. Drs. Harliantara, M.Si., menekankan bahwa sasaran utama literasi digital adalah Generasi Z. Meski mereka lahir di tengah teknologi, bukan berarti otomatis kritis.

“Generasi Z ini pengguna paling aktif, tapi belum tentu paling kritis. Literasi digital harus melatih daya analisis, etika, dan kesadaran untuk selalu memverifikasi,” ungkapnya.

Harliantara juga realistis. Menurutnya, mustahil menghapus hoaks sepenuhnya dari ruang digital.
“Hoaks tidak bisa hilang. Yang bisa dilakukan adalah membanjiri ruang digital dengan informasi kredibel sebagai penyeimbang. Itulah strategi melawan,” tegasnya.

LDR Surabaya: Basis Edukasi Publik

Diskusi kemudian mengerucut pada pentingnya peran komunitas sebagai mitra strategis jurnalis. Fathur (Parto), Koordinator Rumah Literasi Digital Surabaya, menegaskan bahwa literasi digital sudah menjadi keterampilan dasar yang tidak bisa ditawar.

“Informasi datang tiap detik, hoaks juga menyebar tiap detik. Karena itu masyarakat harus dilatih kritis, bijak, dan produktif di ruang digital,” ujarnya.

Fathur berharap RLD bisa menjadi rumah belajar bersama, tempat masyarakat berlatih membaca, memilah, hingga memproduksi informasi dengan tanggung jawab.

Kolaborasi adalah Kunci

Acara “Jagongan Bareng” ini akhirnya menggarisbawahi satu pesan utama: kolaborasi jurnalis, akademisi, dan komunitas sangat mendesak untuk memperkuat daya tahan publik menghadapi disinformasi.

Tanpa sinergi itu, masyarakat akan semakin mudah terperangkap dalam narasi palsu yang tampak meyakinkan. Di sisi lain, jurnalis yang berpegang pada etika dan kredibilitas tetap diyakini sebagai garda terakhir penjaga kebenaran.

“Pada akhirnya, literasi digital bukan sekadar soal teknologi. Ini soal kesadaran, soal keberanian untuk bertanya, memverifikasi, dan menolak tunduk pada arus informasi instan. Dan di sana, jurnalis tetap punya tempat terhormat,” demikian simpulan diskusi.

Editor : Redaksi

Artikel Terbaru
Senin, 04 Agu 2025 20:18 WIB | Seni
Di tengah riuhnya pembangunan infrastruktur dan taman kota, sekelompok seniman mendobrak batas mendirikan museum seni rupa tanpa dana negara. ...
Sabtu, 12 Jul 2025 09:12 WIB | Budaya
Julukan Kota Maria bukan sekadar identitas religius bagi Larantuka, kota kecil yang berada di ujung timur Pulau Flores ...
Selasa, 24 Jun 2025 19:51 WIB | Seni
Saya menyebutnya: Eksotika Bromo adalah salat besar, tapi lewat budaya. ...