Eksotika Bromo 2025 (Foto: Wibowo)
JELAJAH NUSANTARA - Langit Bromo belum sepenuhnya biru. Tapi pasir sudah mulai panas.
Di tengah lautan pasir itulah sekali lagi bunyi gamelan diperdengarkan. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, iramanya bukan sekadar denting. Tapi semacam doa. Disampaikan dengan tabuhan perkusi, gerak tari, dan bisikan alam.
Saya menyebutnya: Eksotika Bromo adalah salat besar, tapi lewat budaya.
Tahun ini, festival tahunan yang pertama kali digelar pada 2017 itu masuk usia kedelapan. Namanya semakin harum. Bukan hanya di telinga pelancong, tapi juga di hati mereka yang diam-diam rindu rumah: rumah budaya, rumah spiritualitas, rumah harmoni.
Dulu hanya digagas oleh komunitas JatiSwara. Kini Balai Besar TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) ikut menyingsingkan lengan baju. Tidak hanya memberi izin, tapi juga ikut menyelenggarakan. Ini bukan sekadar festival: ini kerja sama antara manusia dan alam. Negara dan warga. Seni dan doa.
"Yang datang wajib bawa bibit pohon," kata Heri Lentho. Ia bukan pejabat. Tapi omongannya lebih berwibawa dari sekadar jabatan. Ia pembina JatiSwara, komunitas yang keras kepala memperjuangkan ruang bagi budaya tanpa banyak bicara soal anggaran.
Bibit pohon itu akan ditanam di lereng-lereng Bromo saat musim hujan tiba. Sebagai bentuk konkret ruwat dan rawat. Ruwat: membersihkan. Rawat: menjaga. Ruwat Rawat Segoro Gunung tema besar festival tahun ini. Sebuah ajakan agar manusia tak hanya merayakan alam, tapi juga merawatnya.
Bromo memang selalu sakral. Tapi selama tiga hari, 20 hingga 22 April 2025, ia menjadi sakral dengan cara yang lebih gaduh. Bukan gaduh dalam arti ribut. Tapi seperti suara nyanyian, ketika dilantunkan ramai-ramai dalam satu nada.
Ada Festival Perkusi Jawa Timuran. Musik Tong Tong dari Madura. Perkusi khas Suku Tengger. Semuanya tampil. Tapi yang paling mengguncang hati tetap: Kidung Tengger.
Pertunjukan kolosal ini menceritakan lagi kisah Joko Seger dan Roro Anteng. Legenda lama, tapi tak pernah basi. Dibawakan dalam bentuk sendratari besar. Di atas pasir. Di bawah gunung. Diiringi angin yang tak bisa diam.
"Pertunjukan Kidung Tengger akan digelar dua kali," kata Afifa Prasetya, ketua penyelenggara. Ia tahu, satu kali saja tak cukup untuk menampung kerinduan orang-orang akan budaya yang mulai sunyi ini.
Editor : Redaksi