x jelajahnusantara.co skyscraper
x jelajahnusantara.co skyscraper

Menjelajahi Paskah dan Budaya di Ujung Timur Flores

Avatar jelajahnusantara.co
Wibowo
Sabtu, 12 Jul 2025 09:12 WIB
Budaya

JELAJAH NUASANTARA – Julukan "Kota Maria" bukan sekadar identitas religius bagi Larantuka, kota kecil yang berada di ujung timur Pulau Flores. Setiap menjelang Paskah, nuansa kota ini berubah. Jalan-jalan dipadati umat Katolik dan wisatawan dari berbagai penjuru. Mereka datang tak hanya untuk beribadah, tapi juga untuk meresapi tradisi sakral yang telah hidup lebih dari lima abad: Semana Santa.

Festival religius ini dimulai sejak Rabu Trewa, malam pertobatan yang penuh haru. Kemudian dilanjutkan dengan Kamis Putih, di mana suasana hening menyelimuti kota. Dan berpuncak pada arak-arakan Tuan Menino patung kecil Yesus yang dimuliakan dan dibawa berkeliling dengan penuh penghormatan. Tak hanya ritual keagamaan, Semana Santa adalah momentum kebudayaan. Larantuka menjelma menjadi panggung kehidupan spiritual yang nyaris tak tergantikan di Indonesia.

Bagi Febrian, seorang pelancong yang mengunjungi Larantuka saat Semana Santa, pengalaman ini jauh lebih dalam dari sekadar liburan rohani. Kekagumannya justru merambah ke desa-desa di seberang laut.

Salah satunya adalah Desa Wulublolong di Pulau Solor. Desa ini menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa, terutama lewat tangan-tangan perempuan penganyam daun lontar. Di tengah rumah-rumah sederhana, para ibu duduk bersila, sibuk mengolah lembar demi lembar daun menjadi dompet, tas, bahkan sepatu.

Yang menarik, anyaman-anyaman itu bukan sekadar kerajinan tangan. Mereka adalah simbol ketekunan, ketahanan, dan kekuatan perempuan desa. Komunitas Du’Anyam, yang berarti “perempuan penganyam” dalam bahasa lokal, kini membawa hasil karya mereka ke panggung nasional, bahkan internasional.

“Setiap anyaman adalah cerita,” ungkap Febrian, terkesima melihat proses yang begitu telaten namun penuh makna. “Budaya di sini bukan untuk dipertontonkan, tapi untuk direnungkan.”

Larantuka bukan hanya kota dengan sejarah Katolik yang kuat. Ia adalah kota yang hidup, yang napasnya terdiri dari doa, anyaman, dan cinta akan tradisi. Semana Santa mungkin menjadi magnet utama, namun desa-desa seperti Wulublolong adalah detak jantung yang menghidupkan wajah budaya Flores Timur.

Di Kota Maria ini, spiritualitas dan budaya tak pernah lelah menyapa setiap peziarah maupun pelintas jalan. Sebuah pelajaran bahwa warisan leluhur akan terus menyala, selama masih ada yang mencintai dan menjaga.

Editor : Redaksi

Artikel Terbaru
Selasa, 20 Mei 2025 08:40 WIB | Foto
Sebanyak 65 penyandang disabilitas turut menyumbangkan darahnya, menunjukkan semangat solidaritas yang tinggi ...
Senin, 19 Mei 2025 07:57 WIB | Pariwisata
Monumen Tugu Pahlawan. Paku raksasa yang ditancapkan ke langit, seolah menegaskan bahwa tanah ini pernah dididihkan oleh darah dan tekad. ...
Jumat, 16 Mei 2025 18:06 WIB | Foto
JELAJAH NUSANTARA — Di tengah terik matahari yang menyengat, suara ketukan palu dan gesekan gergaji terdengar bersahut-sahutan dari Kampung Nelayan Lumpur, G ...