Wayang Panji Kembali Hidup di Kota Malang. (Foto: Istimewa)
JELAJAH NUSANTARA — Malam Minggu itu, 4 Mei 2025, Gedung Taman Krida Budaya Kota Malang bukan sekadar menjadi tempat pertunjukan. Ia menjelma menjadi ruang sakral, di mana warisan leluhur Jawa Timur dihidupkan kembali oleh tangan-tangan muda, penuh semangat dan keingintahuan. Lampu sorot menari lembut di atas panggung, denting gamelan mengalun dengan khidmat, dan ratusan pasang mata larut dalam kisah epik Panji Laras.
Namun yang membuat panggung malam itu istimewa bukan hanya kisah yang dibawakan, tapi juga siapa yang membawakannya. Semua pemain penari topeng, dalang, hingga pengrawit adalah anak-anak muda, mulai dari usia sekolah dasar hingga mahasiswa. Mereka adalah bagian dari Sanggar Topeng Panji Asmorobangun, yang selama ini tekun menjaga napas wayang Panji di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.
Pertunjukan berdurasi 60 menit itu menjadi bukti nyata bahwa seni tradisional bisa tetap relevan bahkan memikat di tengah gempuran budaya digital. Berkat sentuhan kuratorial dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur (Disbudpar Jatim), pementasan Panji Laras tampil ringkas namun padat makna.
“Penontonnya kami seleksi, begitu pula grup yang tampil. Kami ingin memberikan pengalaman menyaksikan pertunjukan berkualitas. Seni ini layak diperlakukan dengan hormat,” tutur Kepala Disbudpar Jatim, Evy Afianasari, sesaat sebelum pertunjukan dimulai.
Bagi Evy, wayang Panji bukan sekadar tontonan, tapi juga tuntunan. Kisah Panji Laras seorang pemuda bijak yang berani namun menjunjung tinggi etika menjadi medium edukasi karakter bagi generasi muda. “Kita ingin mendekatkan nilai-nilai luhur dalam bentuk yang sesuai dengan selera Gen Z. Tata panggung, efek visual, hingga durasi yang dipersingkat, semua itu adalah bentuk adaptasi,” tambahnya.
Pendekatan baru ini disambut hangat oleh para pelaku seni di tingkat lokal. Suroso, Ketua Pelaksana sekaligus pengayom Sanggar Asmorobangun, menyebut bahwa panggung adalah ruang pembelajaran bersama. “Anak-anak tidak hanya belajar menari atau memainkan gamelan, mereka juga belajar etika, ritus, dan filosofi,” ujarnya.
Kisah Panji Laras, menurut Suroso, sarat nilai penting: kesetiaan, pencarian jati diri, dan ketulusan dalam menghadapi ujian hidup. “Laras adalah tokoh yang lahir dalam kesendirian, lalu menemukan keluarganya lewat perjuangan dan cinta kasih. Ini sangat relevan dengan kondisi anak muda yang sedang mencari arah,” jelasnya.
Pementasan ini merupakan bagian dari program revitalisasi seni Panji yang diinisiasi oleh Disbudpar Jatim. Sebelumnya, program serupa telah digelar di Gedung Cak Durasim, Surabaya, pada 7 Maret 2025. Nantinya, sistem rotasi akan diterapkan, sehingga lebih banyak sanggar Panji di Malang Raya bisa terlibat dan tampil di panggung.
Evy berharap, di penghujung tahun 2025, akan lahir sebuah pertunjukan akbar yang menyatukan semua sanggar topeng Panji di Jawa Timur. “Kami ingin menghidupkan kembali semangat Panji dari tanah kelahirannya, dan memperkenalkan seni ini ke pentas dunia,” katanya penuh semangat.
Di tengah arus budaya global, wayang topeng Panji warisan agung dari masa Majapahit yang pernah dikenal hingga Asia Tenggara tampaknya belum kehilangan denyutnya. Ia hanya butuh ruang baru, tangan-tangan muda, dan panggung yang terbuka. Malam itu di Malang, denyut itu kembali terdengar, kuat dan penuh harapan.
Editor : Redaksi