Suku Osing. (Foto: Istimewa)
JELAJAH NUSANTARA – Di kaki Gunung Ijen, di antara sawah yang menghampar dan kabut yang menggantung di pagi hari, hidup sebuah komunitas yang menjaga warisan leluhur dengan sepenuh hati. Mereka adalah Suku Osing satu-satunya suku asli yang mendiami Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Berbeda dari mayoritas masyarakat Jawa Timur yang berbahasa Jawa dengan dialek khas masing-masing, masyarakat Osing justru memiliki bahasa dan budaya sendiri. Bahasa Osing, yang menjadi penanda identitas utama mereka, terdengar unik percampuran antara Jawa Kuno, Bali, dan sedikit sentuhan Madura. Dalam percakapan sehari-hari, kata-kata seperti "kula" (saya) dan "sampeyan" (anda) masih digunakan, namun dilafalkan dengan logat dan struktur khas yang membedakan mereka dari penutur Jawa pada umumnya.
Menurut budayawan Osing, I Ketut Sumadi, bahasa Osing bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga penjaga sejarah. “Lewat bahasa, kami menyimpan ingatan tentang asal-usul. Osing itu berasal dari kata ‘sing’ atau ‘ora isin’, yang berarti tidak malu menjadi diri sendiri,” ujarnya.
Jejak Majapahit dan Napas Hindu-Buddha
Keunikan Osing tak hanya berhenti pada bahasa. Mereka dianggap sebagai keturunan langsung kerajaan Majapahit yang enggan meninggalkan tanah kelahirannya saat kerajaan Hindu-Buddha itu runtuh. Saat Islam menyebar ke Jawa, para bangsawan dan rakyat Majapahit yang setia dengan ajaran lamanya memilih bermigrasi ke daerah timur, salah satunya ke Blambangan wilayah yang kini dikenal sebagai Banyuwangi.
Hingga hari ini, peninggalan budaya Hindu-Buddha masih kental dalam upacara adat Osing. Salah satunya adalah Kebo-keboan, sebuah ritual tolak bala yang digelar setiap bulan Suro. Dalam upacara ini, pria dewasa berdandan menyerupai kerbau dan berjalan keliling desa sambil menari dan “mengamuk.” Mereka dipercaya sebagai jelmaan roh leluhur yang datang membawa keberkahan dan keselamatan.
Ritual lainnya adalah Tumpeng Sewu di Desa Kemiren, di mana ratusan tumpeng kecil dikumpulkan dalam sebuah syukuran massal yang mencerminkan filosofi gotong royong dan harmoni antara manusia dan alam.
Kemiren: Benteng Terakhir Tradisi
Jika ingin menyaksikan keaslian budaya Osing, maka Desa Kemiren adalah tempatnya. Desa adat ini telah ditetapkan sebagai desa wisata budaya oleh pemerintah daerah. Rumah-rumah panggung beratap ilalang dan ukiran khas menghiasi setiap sudut desa. Di sore hari, aroma kopi lanang yang diseduh perlahan dari tungku tanah liat menggoda hidung. Kopi ini konon hanya bisa tumbuh sempurna di tanah Kemiren.
“Setiap rumah di desa ini punya kentongan kayu. Kalau ada kabar penting atau bahaya, kami pukul kentongan itu. Suaranya khas dan warga bisa tahu dari ritmenya,” ujar Mbah Rawi, sesepuh desa yang usianya sudah lebih dari 80 tahun.
Selain itu, seni pertunjukan khas seperti Gandrung tari pergaulan yang semula dibawakan oleh perempuan untuk menyambut pahlawan perang masih lestari. Kini, Gandrung telah menjelma menjadi ikon pariwisata Banyuwangi, namun tetap dibawakan dengan roh yang sama: penghormatan terhadap sejarah dan rasa cinta terhadap tanah kelahiran.
Modernisasi dan Ancaman Identitas
Namun, di tengah derasnya arus modernisasi, identitas Osing menghadapi tantangan. Generasi muda cenderung lebih fasih berbahasa Indonesia atau Jawa standar. Upacara adat mulai ditinggalkan karena dianggap kuno dan tak relevan. Sekolah-sekolah pun belum banyak mengajarkan muatan lokal tentang budaya Osing secara intensif.
Bupati Banyuwangi, dalam beberapa kesempatan, telah menegaskan komitmennya menjaga warisan Osing. Lewat ajang Festival Gandrung Sewu, Pemilihan Jejak Tradisi Osing, dan pengembangan desa wisata, pemerintah berharap budaya Osing tetap hidup, tidak sekadar menjadi tontonan, tapi juga tuntunan.
Suku Osing adalah mozaik yang memperkaya keberagaman Indonesia. Mereka adalah bukti bahwa akar budaya bisa tetap tumbuh kokoh meski diterpa zaman. Di antara gema kentongan, denting gamelan Gandrung, dan kepulan asap kopi Kemiren, Suku Osing terus membisikkan pesan dari masa lalu: bahwa menjadi diri sendiri adalah kekuatan sejati.
Editor : Redaksi