x jelajahnusantara.co skyscraper
x jelajahnusantara.co skyscraper

Topeng untuk Dunia: Diplomasi Budaya dari Jawa Timur

Avatar jelajahnusantara.co
Wibowo
Rabu, 30 Apr 2025 15:38 WIB
Seni

JELAJAH NUSANTARA — Di tengah arus globalisasi dan derasnya budaya digital, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur hadir dengan terobosan segar: program “Topeng untuk Dunia.” Sebuah gerakan budaya yang menjadikan generasi muda sebagai aktor utama dalam merawat, menghidupkan, dan menyuarakan kembali kisah Panji kepada dunia.

Program ini bukan sekadar pelestarian tradisi, tetapi strategi kebudayaan yang cerdas. Disbudpar Jatim sadar bahwa tanpa keterlibatan anak-anak muda, terutama Gen-Z, cerita Panji hanya akan menjadi dongeng usang. Maka, pendekatan baru pun dirancang dari kolaborasi dengan akademisi, penampilan artistik yang segar, hingga konten yang mudah diakses dan dipahami generasi kini.

Panji bukan cerita asing bagi Jawa Timur. Dari Kediri hingga Majapahit, Panji tumbuh sebagai kisah lokal yang sarat nilai universal: kesetiaan, perjuangan, dan jati diri. Kini, kisah itu bangkit kembali dalam bentuk dramatari Wayang Topeng Malangan, dipentaskan dengan cara baru yang tetap berpijak pada akar tradisi.

Seperti pada Jumat malam, 7 Maret 2025 lalu, ketika Gedung Cak Durasim Surabaya menyuguhkan kisah “Rara Tangis Rara Jiwa” dramatari yang digarap bersama Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW). Dengan warna teatrikal dan estetika topeng khas Malang, pertunjukan ini menjadi contoh sinergi generasi muda dan institusi dalam merawat warisan budaya.

Tak berhenti di sana, Disbudpar Jatim menggandeng Sanggar Seni Topeng Asmorobangun untuk membawakan “Panji Laras” di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Malang, Minggu 4 Mei 2025. Panji Laras adalah lambang harapan dan keberanian: seorang pemuda dari rakyat jelata yang akhirnya diakui sebagai pangeran sejati. Sebuah metafora kuat tentang identitas dan perjuangan diri yang sangat dekat dengan dunia remaja masa kini.

Program ini akan terus berjalan sepanjang tahun 2025, menghadirkan berbagai pementasan dari sanggar Wayang Topeng Malangan. Puncaknya akan ditutup dengan pertunjukan kolosal di akhir tahun, mempertemukan berbagai elemen budaya dalam satu panggung besar.

Namun “Topeng untuk Dunia” bukan semata urusan panggung. Ia adalah diplomasi budaya yang halus, membawa cerita Panji melintasi batas geografis. Kisah Panji telah hidup di Malaysia, Thailand, Kamboja, hingga Vietnam menjadikannya warisan bersama Asia Tenggara. Sebuah warisan yang tidak didominasi oleh kisah Ramayana atau Mahabarata, melainkan narasi khas Nusantara yang mandiri dan kuat.

“Panji adalah wajah budaya kita yang autentik. Saat anak muda terlibat, kita tidak hanya melestarikan kita menghidupkan kembali peradaban,” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari.

Hari ini, di tengah ketidakpastian arah budaya global, Jawa Timur memilih jalan yang membumi sekaligus mendunia. Menawarkan Panji bukan sebagai romantisme masa lalu, tapi sebagai refleksi masa depan yang berakar pada kearifan lokal.

Generasi muda bukan sekadar penonton. Mereka kini memegang tongkat estafet Panji, meneruskan kisah yang telah berjalan lintas abad menuju dunia, dari panggung topeng Jawa Timur.

Editor : Redaksi

Artikel Terbaru
Rabu, 30 Apr 2025 08:21 WIB | Feature
Marsinah, pahlawan buruh yang lahir di Desa Ngelundo, Nganjuk pada 10 April 1969, dikenal sebagai sosok pekerja keras dan pembela kebenaran sejak kecil ...
Rabu, 30 Apr 2025 08:08 WIB | Feature
Soesalit Djojoadhiningrat adalah anak satu-satunya R.A. Kartini yang lahir pada 13 September 1904. Empat hari setelah kelahirannya, Kartini wafat, meninggalkan ...
Senin, 28 Apr 2025 13:17 WIB | Foto
Para kuli angkut tampak sibuk membongkar muat barang, mempertahankan denyut ekonomi yang sudah mengalir di pelabuhan ini sejak ratusan tahun lalu. ...