JELAJAH NUSANTARA – Di balik deretan rumah-rumah sederhana dan deru alat tenun yang terdengar saban hari, Desa Wedani di Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, menyimpan potensi ekonomi luar biasa. Desa ini telah ditetapkan sebagai Desa Devisa oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sejak November 2021. Predikat itu bukan tanpa alasan. Hampir 95 persen warganya menggantungkan hidup dari tradisi menenun yang diwariskan secara turun-temurun.
Kain tenun Wedani bukan sembarang kain. Setiap helainya menyimpan jejak budaya, kesabaran, dan keterampilan tangan yang terasah dari generasi ke generasi. Kualitasnya pun tak hanya dikenal di pasar lokal, tapi juga telah merambah pasar internasional melalui jalur indirect export. Namun, justru di jalur ekspor ini pula tantangan besar mengadang.
“Produk kami sudah sampai ke luar negeri, sudah menyumbang devisa, tapi sayangnya eksportirnya bukan dari koperasi kami,” ungkap Mas Ariyatin, salah satu pengurus Koperasi Wedani Giri Nata (WGN). Jalur indirect export membuat pengrajin kehilangan peluang untuk mendapat nilai jual lebih tinggi karena produk mereka dibeli oleh pihak pertama di dalam negeri yang kemudian mengekspornya.
Kendala lain juga datang dari sisi hulu—bahan baku. Sebagian besar benang seperti sutra dan mesres, serta bahan pewarna, masih harus diimpor dari China dan India. Harga bahan baku pun tak menentu, mengikuti fluktuasi panen dan ketersediaan pasar global.
“Kadang kita butuhnya pas bukan musimnya. Harga benang bisa melambung tinggi,” jelas Ariyatin. Tak heran, biaya produksi kain tenun pun bervariasi. Untuk tenun berbahan sutra, biaya produksinya bisa mencapai Rp350 ribu per lembar. Sementara yang berbahan mesres sekitar Rp200 ribu.
Meski begitu, semangat para pengrajin tak surut. Dalam sehari, sekitar 60 pengrajin bersama 1.500 tenaga kerja di desa ini mampu memproduksi hingga 200 lembar kain tenun. Mereka juga mulai merambah platform digital seperti Alibaba untuk menjajaki pasar ekspor langsung sejak 2021. Harga jual kain tenun Wedani dibanderol mulai Rp200 ribu hingga Rp1,5 juta per lembar, dengan margin keuntungan sekitar Rp25 ribu hingga Rp75 ribu per produk.
Dengan populasi sekitar 3.400 jiwa, sebanyak 2.170 orang di Desa Wedani menggantungkan hidup sebagai penenun. Sisanya berprofesi sebagai petani dan petambak udang serta bandeng. Aktivitas menenun dilakukan baik di gudang produksi maupun di rumah masing-masing, menjadikan tenun sebagai denyut kehidupan desa ini.
Program Desa Devisa sendiri merupakan inisiatif LPEI sejak 2019 yang bertujuan mengembangkan potensi ekspor unggulan berbasis komunitas di desa. Dengan bimbingan dan akses pasar yang tepat, diharapkan Desa Wedani tak hanya menjadi sentra tenun tradisional, tapi juga pemain utama dalam pasar tenun global.
Editor : Redaksi