Jaran Slining
JELAJAH NUSANTARA - Suasana Kamis petang (24/04/2025) di Panggung Cak Durasim, Surabaya, terasa berbeda. Langit menggantungkan cahaya redup khas sore hari, namun di bawahnya, sorot lampu panggung justru memuncak: menyoroti parade warna dan gerak yang datang dari Lumajang. Jaran Slining, sebuah kesenian tradisional yang dulu hanya hadir di pelosok kampung, kini berdiri megah di pusat kebudayaan Jawa Timur.
Dibuka dengan tabuhan kendang dan suling yang lirih, para penari anak-anak dan remaja melenggang keluar membawa kuda-kudaan kayu yang dihias pita warna-warni. Mereka mengenakan busana tradisional Madura-Lumajangan: celana panjang hitam, ikat kepala batik, dan baju lurik dengan motif khas. Gerakan mereka tidak kaku, namun juga tidak liar. Terukur, namun hidup. Seolah ingin menyampaikan bahwa di balik tampilan sederhana itu tersimpan semangat kolektif, ketekunan, dan identitas.
“Jaran Slining ini kami hidupkan kembali sebagai bentuk adaptasi, bukan semata pelestarian,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kabupaten Lumajang, Muhammad Suhudi. Di belakang panggung, ia sempat berbincang dengan awak media sembari memperhatikan anak-anak asuhnya menari. “Di masa lalu, ketika masyarakat tidak mampu menyewa Jaran Kencak untuk pernikahan atau khitanan, mereka membuat versi sendiri. Murah, ringan, tapi penuh makna. Dari situlah Jaran Slining lahir.”
Istilah "Slining", menurut Suhudi, berasal dari bahasa Jawa "Sak Lining" yang berarti “seadanya” atau “sedikit”. Tapi dari sesuatu yang sedikit itu, lahirlah ekspresi seni yang mengakar dalam.
Kini, Jaran Slining telah melampaui status “alternatif”. Ia bukan lagi pilihan karena keterbatasan, melainkan pilihan karena kesadaran. Disusun sebagai pertunjukan yang utuh, dengan struktur cerita dan tata artistik yang dipoles oleh tangan-tangan muda Lumajang, Jaran Slining mulai masuk ke ranah pendidikan budaya, pariwisata, hingga kompetisi seni.
Riset dan Regenerasi
Apa yang ditampilkan malam itu adalah hasil pembinaan selama dua tahun terakhir. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lumajang menggandeng seniman lokal seperti Supangat, maestro Jaran Kencak generasi tua, serta komunitas seni Sastra Budaya yang berbasis di Kecamatan Senduro. Mereka mendokumentasikan bentuk awal Jaran Slining, lalu mengolahnya bersama anak-anak muda menjadi koreografi yang tak kehilangan akar.
“Kami tidak ingin kehilangan kontinuitas,” ujar Heru Prasetyo, pengajar seni budaya yang ikut mengkurasi pertunjukan. “Banyak kesenian daerah yang hanya berhenti di pementasan. Tapi tidak berlanjut ke pendidikan, dokumentasi, dan regenerasi. Itu yang kami antisipasi sejak awal.”
Proses ini, menurut Heru, juga didukung oleh digitalisasi. Rekaman-rekaman lama Jaran Slining dari dekade 1980-an dikumpulkan dari arsip keluarga dan yayasan desa. Bahkan beberapa partitur musiknya ditranskripsi ulang agar bisa dimainkan ulang oleh grup karawitan muda.
Panggung yang Menyambut
Bagi UPT Taman Budaya Jawa Timur, kehadiran Jaran Slining bukan sekadar pengisi acara. Ia adalah tamu kehormatan dari garis budaya yang terpinggirkan. “Kami bukan hanya memberi panggung, tapi juga memberi tempat dalam ingatan kolektif,” kata Ali Ma’ruf, Kepala UPT Taman Budaya. “Seni seperti Jaran Slining adalah perlawanan terhadap pelupaan. Jika tidak tampil hari ini, bisa jadi 10 tahun lagi ia lenyap.”
Ali menyebut pertunjukan ini sebagai bagian dari program revitalisasi budaya daerah yang digelar setiap triwulan. Daerah-daerah yang memiliki kesenian berbasis komunitas dan nilai sejarah kuat diberi kesempatan tampil di panggung utama. Harapannya, lahir ekosistem seni yang tidak berpusat di kota besar.
Lebih dari Sekadar Tontonan
Selama lebih dari satu jam, Jaran Slining membentangkan kisah kehidupan desa: ada prosesi panen, ritual tolak bala, hingga pesta rakyat. Musik pengiringnya menggunakan instrumen tradisional seperti kenong, saron, gong, serta suling bambu. Beberapa irama bahkan menyisipkan pengaruh musik Arab-Madura, menandakan keterbukaan budaya Lumajang sebagai daerah perlintasan.
Salah satu penonton, Nur Azizah, mahasiswa Antropologi Universitas Airlangga, mencatat bahwa bentuk pertunjukan seperti ini jarang muncul di ruang-ruang urban. “Biasanya kita hanya tahu Reog atau Ludruk. Tapi Jaran Slining ini membuka mata saya bahwa masih banyak lapisan budaya yang belum masuk radar,” ujarnya. Ia berharap pertunjukan ini bisa digelar keliling, bukan hanya di panggung budaya formal.
Menuju Pengakuan
Di akhir pertunjukan, tepuk tangan berdiri pecah. Para penari yang rata-rata berusia belasan tahun tersenyum malu-malu. Namun di balik senyum itu, mereka sedang menoreh sejarah kecil: mengenalkan wajah baru Lumajang kepada khalayak.
“Kami sedang menyusun dokumen untuk mendaftarkan Jaran Slining sebagai Warisan Budaya Tak Benda,” kata Suhudi. Dokumen itu mencakup sejarah lisan, dokumentasi visual, serta narasi antropologis yang menjelaskan posisi Jaran Slining dalam konteks sosial budaya Lumajang. “Semoga tahun ini bisa disahkan oleh Kemendikbudristek.”
Malam itu ditutup dengan penyerahan cendera mata dari Taman Budaya Jawa Timur kepada para seniman. Tidak mewah, tapi simbolis. Seperti Jaran Slining itu sendiri: kecil, ringan, tapi tak tergantikan.
Editor : Redaksi