Marsinah (Foto: Istimewa)
JELAJAH NUSANTARA — Sebuah rumah kuno berdiri tenang di Desa Ngelundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Tak ada yang istimewa dari bangunannya, kecuali satu hal: di dalam rumah itu, kenangan tentang seorang pahlawan buruh Indonesia masih hidup dan dijaga dengan penuh cinta oleh pasangan lanjut usia, Sini (61) dan Suraji (70). Mereka adalah budhe dan pakde dari almarhumah Marsinah simbol perjuangan kaum pekerja, yang suaranya dibungkam pada Mei 1993.
Marsinah lahir pada 10 April 1969. Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara, buah cinta pasangan Mastin dan Samini. Ibunya meninggal saat Marsinah baru berusia dua tahun, dan sang ayah menyusul sekitar lima tahun lalu. Sejak kecil, Marsinah sudah menunjukkan keteguhan hati dan jiwa pembela keadilan. Tak hanya membantu orang tuanya di sawah, Marsinah juga dikenal sebagai pelindung bagi teman-teman sekelasnya.
“Waktu sekolah dulu, dia pernah membela temannya yang ditindas. Nggak suka lihat ketidakadilan,” cerita Budhe Sini dengan mata berkaca-kaca.
Pendidikan dasar dan menengah Marsinah ditempuh di kampung halamannya SD Ngelundo, SMPN 5 Nganjuk, dan SMA Muhammadiyah Nganjuk. Setelah lulus, Marsinah merantau ke Sidoarjo, ikut kakaknya, Marsini, bekerja sebagai buruh di PT Catur Putra Surya (CPS), Porong. Di situlah Marsinah mulai aktif sebagai buruh yang vokal menyuarakan hak-hak pekerja.
Namun perjuangan itu harus dibayar mahal. Pada tanggal 8 Mei 1993, jasad Marsinah ditemukan tak bernyawa di sebuah gubuk di Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk. Luka-luka yang ditemukan di tubuhnya menjadi saksi bisu kekerasan yang dialaminya dan hingga hari ini, keluarga masih menanti keadilan.
“Semoga pelaku sebenarnya bisa ditangkap. Kami hanya ingin keadilan bagi Marsinah,” ujar Suraji lirih.
Kini, kenangan tentang Marsinah tidak hanya tersimpan di ruang tengah rumah keluarga, di mana foto dan piagam penghargaan terpajang rapi. Namanya diabadikan menjadi nama jalan di desa itu. Tepat di pinggir jalan nasional yang tak jauh dari rumahnya, berdiri kokoh sebuah monumen patung Marsinah tegak, seperti semangatnya yang tak pernah padam.
“Alhamdulillah, pemerintah juga sudah memperbaiki makam Marsinah. Kami bersyukur. Setiap Hari Buruh atau Hari Perempuan, selalu ada yang datang ziarah,” kata Budhe Sini.
Marsinah bukan sekadar buruh. Ia adalah simbol perlawanan terhadap penindasan. Di tengah riuh rendah dunia kerja hari ini, kisahnya mengingatkan kita bahwa suara kebenaran, meski dibungkam, tak akan pernah benar-benar hilang. Ia akan terus hidup di rumah-rumah tua, di monumen, di nama jalan, dan di hati rakyat yang berani.
Editor : Redaksi