JELAJAH NUSANTARA - Di balik denyut distribusi barang di pasar-pasar tradisional, perempuan-perempuan kuli angkut memainkan peran penting. Mereka mendorong roda perekonomian dengan tenaga, tapi hidup mereka sendiri masih berkelindan dalam kemiskinan. Perlindungan sosial yang layak pun masih sebatas harapan.
Mayoritas dari mereka berpendidikan rendah, bermodal pas-pasan, dan minim peluang untuk beralih profesi. Mengandalkan kekuatan badan, penghasilan yang mereka bawa pulang kerap tak cukup untuk menopang hidup layak.
Di Pasar Pabean, Surabaya, Jawa Timur, para perempuan kuli angkut itu adalah potret buram yang kerap luput dari perhatian. Setiap hari mereka bergulat dengan waktu dan beban, berharap membawa pulang rezeki untuk keluarga.
Tak ada keluhan. Hanya keringat yang membasahi punggung dan langkah-langkah yang tak kenal lelah. Barang demi barang mereka angkut, memastikan semua sampai tepat di tangan pemiliknya.
Upah mereka beragam, antara Rp10 ribu hingga Rp50 ribu untuk sekali angkut, tergantung berat dan banyaknya barang. Tak sebanding dengan tenaga yang mereka curahkan, tapi cukup untuk membuat dapur tetap mengepul.
Editor : Redaksi