Kebun Binatang Surabaya (KBS) tempoe doeloe (Foto: Dokumen Negara)
JELAJAH NUSANTARA - Kebun Binatang Surabaya (KBS) dulu adalah kebanggaan. Koleksi satwanya terlengkap di Asia Tenggara. Orang dari kota lain rela datang hanya untuk melihat bagaimana Surabaya punya kebun binatang sekelas dunia.
Hari ini? KBS kembali jadi bahan diskusi. Judulnya sederhana: “Apa Kabar KBS?”. Tapi jawabannya ternyata rumit. Bahkan menyakitkan.
Diskusi yang Tajam
Jumat, 5 September 2025, Rumah Literasi Digital Surabaya dipenuhi wajah serius. Ada yang tua, ada yang muda. Tapi yang paling ditunggu: Singky Soewadji. Koordinator Aliansi Pecinta Satwa Liar Indonesia ini bicara tanpa basa-basi.
“Konservasi itu bukan untuk coba-coba. Harus dipegang orang yang betul-betul paham. Kalau salah orang, hasilnya ya seperti sekarang. KBS lebih banyak hiburannya, kurang konservasinya,” ujarnya.
Singky tak sekadar bicara soal sekarang. Ia menengok ke belakang. Tentang satwa yang dulu datang dari berbagai negara. Bahkan kelinci dari Ratu Yuliana Belanda. Ia juga menyinggung pentingnya hubungan antarnegara yang dulu dijalin lewat diplomasi satwa.
Kritik yang Menyengat
Di tengah forum, ia menyindir gaya bertanya sebagian peserta yang menurutnya membingungkan. “Kalau orang benar-benar paham, pertanyaannya jelas. Kalau membingungkan, berarti tidak mengerti,” katanya ketus.
Ia juga bicara soal regenerasi kepemimpinan KBS. Menurutnya, konservasi bukan hanya soal semangat muda. “Kalau umur 50 itu masih kecut. Yang matang itu di atas 60. Anak muda boleh, tapi harus didampingi manajemen yang benar-benar mengerti,” tegasnya.
Sindiran itu tidak berhenti di situ. Ia menyinggung soal jabatan publik. “Kita butuh menteri kehutanan yang paham kehutanan. Tapi yang dipilih malah paham ketuhanan. Boleh saja. Tapi harus punya staf ahli yang bersih dan ngerti betul,” katanya.
Dua Nama Kandidat
Diskusi juga menyebut dua calon potensial untuk memimpin KBS: Awal Rutin, mantan direktur Kebun Binatang Semarang, dan Heni, karyawan senior KBS. Keduanya dianggap memenuhi syarat dari sisi pengalaman. Tapi apakah bisa membawa KBS keluar dari kontroversi? “Belum tentu,” ujar Singky.
Perspektif Berbeda
Di sisi lain, Kus Andi, Ketua H3 Surabaya Raya, memilih sudut pandang lain. Baginya, dari sisi pariwisata, KBS sudah lumayan berhasil. “Saya lihat kemasan wisatanya bagus. Aktif di media sosial. Inovasi ada. Dari sisi hiburan, KBS sudah berhasil,” katanya.
Tapi Kus juga ragu soal fungsi konservasi dan edukasi. “Apakah itu masih dijalankan? Saya tidak bisa memastikan. Kesan saya, KBS lebih kuat di wisata.”
Antara Hiburan dan Konservasi
Dua pandangan itu bertolak belakang. Satu menuntut konservasi yang serius. Satu melihat potensi hiburan yang sudah berhasil.
Lalu, ke mana arah KBS? Apakah tetap jadi kebun binatang dalam arti sejati: pusat penelitian, konservasi, dan edukasi? Atau cukup jadi taman hiburan dengan spot foto, tiket, dan pertunjukan?
Pertanyaan itu terus berputar. Sama seperti judul diskusi: Apa Kabar KBS? pertanyaan yang sampai hari ini belum juga punya jawaban.
Editor : Redaksi