x jelajahnusantara.co skyscraper
x jelajahnusantara.co skyscraper

100 Meter Nasionalisme dari Sidoarjo

Avatar jelajahnusantara.co
Wibowo
Jumat, 05 Sep 2025 14:20 WIB
News

JELAJAH NUSANTARA - Jumat pagi itu terasa berbeda. Desa Kemiri, Sidoarjo, yang biasanya sunyi selepas subuh, berubah wajah. Jalanan desa yang umumnya hanya dilalui motor-motor tua, becak, dan anak-anak sekolah, tiba-tiba dipenuhi manusia.

Ratusan.

Mereka berpakaian serba hitam. Tapi tidak ada wajah muram. Justru penuh senyum, tawa, dan semangat.

Pagi itu, mereka menggelar kirab bendera merah putih. Bukan bendera kecil. Panjangnya seratus meter. Lebarnya pun cukup untuk menutupi badan jalan.

Diarak keliling desa.

Sejak pukul enam pagi, warga sudah berjajar. Menunggu. Begitu kain panjang itu dibentangkan, jalanan mendadak berubah warna. Merah putih membelah kampung. Satu persatu warga keluar rumah. Ada yang menonton di teras. Ada yang menepuk-nepuk tangan. Ada yang langsung bergabung.

“Ini bukan sekadar acara. Ini rasa cinta kami pada tanah air. Kami ingin menunjukkan, warga Sidoarjo solid. Tidak mudah diadu domba,” kata Saiful Anam, penggagas acara.

Bukan kebetulan mereka memilih hari Jumat. Hari yang sakral bagi umat Islam. Hari yang penuh doa dan keberkahan. Di desa, Jumat adalah hari berkumpul. Hari paling pas untuk mengirim pesan kebersamaan.

Kirab itu bukan hanya soal bendera. Ia adalah simbol. Bahwa warga ingin menjaga kedamaian di tengah situasi yang gampang panas. Politik yang gaduh. Kebijakan pemerintah yang sering bikin resah.

Tapi warga Kemiri memilih cara yang lain. Mereka menyikapi dengan kepala dingin. Dengan simbol persatuan. Dengan merah putih.

“Kalau kita bersatu, kita bisa berpikir jernih. Bisa mengkritik pemerintah dengan santun. Tidak dengan marah-marah. Tidak dengan anarkis,” ujar Ahmad Jawawi, Ketua RW 01 Desa Kemiri.

Pagi itu, jalanan desa seperti pesta rakyat. Tapi bukan pesta yang gaduh. Tidak ada musik dangdut. Tidak ada sound system besar. Tidak ada panggung hiburan.

Yang ada hanya kain panjang. Warna merah dan putih. Dibawa bersama-sama. Dengan langkah kaki yang kompak. Dengan hati yang sama: menjaga persatuan.

Di sepanjang jalan, anak-anak kecil ikut berlari. Beberapa ibu menenteng kamera ponsel. Para bapak terlihat gagah meski hanya dengan kaos hitam sederhana.

Seorang nenek bahkan tampak berlinang air mata. Entah karena terharu. Atau karena mengingat masa lalu. Saat bendera merah putih dulu begitu mahal nilainya. Harus dipertaruhkan dengan nyawa.

Kini, bendera itu bisa diarak dengan sukacita. Tanpa takut. Tanpa penjajah. Tapi pesannya tetap sama: Indonesia harus dijaga.

Kirab itu selesai sebelum matahari terlalu tinggi. Tapi bekasnya masih terasa. Orang-orang masih bercerita. Masih mengulang rekaman video di ponselnya.

Bendera sudah dilipat. Jalanan kembali sepi. Anak-anak kembali ke sekolah. Bapak-bapak ke sawah. Ibu-ibu ke pasar.

Namun ada sesuatu yang tertinggal di hati mereka.

Kebanggaan.
Kebersamaan.
Dan rasa: bahwa menjadi Indonesia bukan hanya soal berdiri di upacara 17 Agustus. Tapi soal menjaga persatuan setiap hari.

Kirab 100 meter itu memang sederhana. Tapi di situlah letak keindahannya. (Dimas)

Editor : Redaksi

Artikel Terbaru
Rabu, 27 Agu 2025 07:32 WIB | Gaya Hidup
JELAJAH NUSANTARA – Di era ketika setiap orang bisa menjadi “penyampai berita” lewat gawai di tangannya, kebenaran justru semakin rapuh. Hoaks, disinformasi, hi ...
Senin, 04 Agu 2025 20:18 WIB | Seni
Di tengah riuhnya pembangunan infrastruktur dan taman kota, sekelompok seniman mendobrak batas mendirikan museum seni rupa tanpa dana negara. ...
Sabtu, 12 Jul 2025 09:12 WIB | Budaya
Julukan Kota Maria bukan sekadar identitas religius bagi Larantuka, kota kecil yang berada di ujung timur Pulau Flores ...