Gunung Bromo. (Foto-foto: Rahmad Hidayat/Jelajah Nusantara)
JELAJAH NUSANTARA - Ada sebuah pemandangan yang hanya bisa ditemui di satu tempat di dunia: kawah di tengah kawah.
Itulah Bromo.
Gunung yang tidak pernah tidur. Gunung yang setiap saat masih mengepulkan asap putih dari perutnya. Gunung yang tetap hidup, meski usianya sudah lebih dari sejuta tahun.
Laut pasir seluas delapan kilometer mengelilinginya. Pasir itu bukan sekadar pasir. Itu bekas luka dari letusan maha dahsyat masa lalu. Luka yang kemudian justru menjelma jadi keindahan. Jadi magnet. Jadi pesona yang membuat orang dari seluruh dunia rela mendaki dini hari, demi melihat fajar pertama dari balik Gunung Penanjakan.
Rahmad Hidayat/Jelajah Nusantara
Saya selalu terkesima dengan Bromo. Bukan hanya karena keindahannya. Tapi juga karena ia seperti museum hidup. Museum geologi. Museum tentang bagaimana bumi bekerja.
Dulu, satu juta tahun yang lalu, ada satu gunung raksasa bernama Tengger. Tingginya konon mencapai empat ribu meter. Dialah “penguasa” Pulau Jawa waktu itu. Tapi gunung sebesar itu pun akhirnya roboh.
Sebuah letusan dahsyat memecahkannya. Hancur. Tercipta sebuah kawah raksasa: kaldera selebar delapan kilometer. Dindingnya tegak, terjal, seperti benteng raksasa setinggi 200–600 meter. Itulah yang kini kita kenal sebagai Pegunungan Tengger.
Rahmad Hidayat/Jelajah Nusantara
Dari lubang luka itu, lahirlah gunung-gunung baru. Batok, Watangan, Widodaren, Kursi, dan tentu saja: Bromo. Anak-anak gunung yang tumbuh dari rahim Tengger.
Bromo berbeda. Ia tidak berhenti. Ia terus hidup. Terus bernafas. Terus mengepulkan asap. Kawahnya seperti altar yang tak pernah padam.
Di sekelilingnya, gunung-gunung diam. Batok dengan bentuk kerucut yang gagah. Widodaren dengan punggung yang tinggi. Watangan yang kokoh. Kursi yang anggun. Tapi hanya Bromo yang bergolak. Seperti mengingatkan: aku belum selesai.
Di kejauhan tampak Semeru. Menjulang paling tinggi di Jawa: 3.676 meter. Ia seperti kakak sulung. Tegak, berwibawa, sekaligus berbahaya. Tapi justru di situlah keindahan Bromo: ia punya latar belakang yang megah.
Orang Tengger percaya, Bromo bukan sekadar gunung. Ia suci. Mereka masih menggelar Yadnya Kasada setiap tahun. Membawa sesaji ke kawahnya. Menyembuhkan luka batin dengan cara melemparkan hasil bumi ke perut Bromo.
Rahmad Hidayat/Jelajah Nusantara
Turis-turis asing mungkin hanya melihat sunrise. Tapi orang Tengger melihat lebih dari itu: sebuah kehidupan. Sebuah hubungan antara manusia, alam, dan Yang Mahakuasa.
Saya sering berpikir: hidup ini seperti Bromo. Kita sering terluka. Kita sering hancur. Tapi dari luka itu, bisa lahir keindahan. Dari reruntuhan, bisa muncul pesona baru. Dari letusan, bisa tercipta lautan pasir.
Bromo adalah bukti. Luka bisa jadi keindahan. Luka bisa jadi kehidupan.
Dan setiap kali asap putih itu mengepul, ia seperti berkata: jangan berhenti. Aku masih hidup. Aku masih bernapas.
Editor : Redaksi