Gunung Raung (Foto: Sangat Istimewa)
JELAJAH NUSANTARA - Banyuwangi selalu punya cara membuat orang datang. Tak hanya karena kawah Ijen dengan api birunya yang sudah mendunia. Tapi juga karena gunung yang lebih liar, lebih garang, lebih menantang: Raung.
Ketinggiannya 3.334 meter di atas laut. Bukan yang tertinggi di Indonesia. Tapi, jalurnya? Itulah yang membuatnya terkenal: sempit, terjal, ekstrem. Hanya untuk mereka yang benar-benar pendaki.
Itu pula yang membuat Suhaila Binti Muhammad Ejam nekat terbang dari Malaysia. Bersama rombongannya, ia menjajal Raung selama tiga hari dua malam.
“Saya puas. Overall bagus. Jalurnya menantang, pemandangannya juga luar biasa,” katanya dengan mata berbinar.
Suhaila sudah biasa mendaki di negaranya. Tapi, menurutnya, gunung di Indonesia lain. Hutannya lebih terbuka. Pandangannya lebih luas. Dari puncak, ia bisa melihat laut. Juga gunung-gunung lain berdiri gagah.
“Kalau di Malaysia hutannya rapat. Di sini view lebih menarik. Lebih memuaskan. Jadi senang lah mendaki di Indonesia,” tambahnya.
Raung memang baru saja “bangun” dari tidurnya. Sejak 15 Juni lalu ditutup karena erupsi, ia resmi dibuka kembali pada 1 Agustus. Hanya butuh hitungan hari, jalur pendakian Kalibaru dan Sumberwringin langsung dipenuhi pendaki—lokal dan mancanegara.
Bagi mereka, Raung bukan sekadar gunung. Ia punya kaldera terbesar kedua di Indonesia. Ia juga punya puncak Sejati, tempat matahari terbit memecah kabut. Itulah momen yang diburu kamera-kamera.
“Raung selalu punya daya tarik tersendiri. Banyak pendaki luar negeri yang penasaran dengan jalur sempit dan pemandangan kawahnya,” ujar seorang petugas basecamp pendakian.
Tapi, pengelola selalu mengingatkan: Raung bukan gunung wisata. Ia gunung tantangan. Tak cocok untuk pemula. Peralatan lengkap wajib. Mental baja juga.
Kini, geliat pendakian di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur kembali hidup. Bukan hanya dompet warga sekitar yang terisi, tapi juga kebanggaan mereka: bahwa Raung kini menjadi magnet pariwisata dunia.
Suhaila dari Malaysia membuktikannya. Dan entah besok, giliran siapa lagi.
Editor : Redaksi