Ilustrasi Tari Bali. (Foto: Istimewa)
JELAJAH NUSANTARA - Dunia sedang gaduh.
Konflik senjata di Timur Tengah. Ketidaksetaraan di Afrika. Persaingan adidaya di Asia.
Di tengah itu, Bali bicara lain: harmoni.
Melalui CHANDI 2025 forum internasional tentang budaya, warisan, seni, dan diplomasi.
Delegasi dari 43 negara berkumpul.
Pesan mereka sederhana tapi mendalam: dunia bisa pecah oleh politik, bisa retak oleh ekonomi, bisa hancur oleh perang. Tapi budaya bisa menyatukan.
“Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar milik Indonesia. Itu tawaran kita kepada dunia,” kata Menteri Kebudayaan, Fadli Zon.
Indonesia tahu cara bicara yang tidak menakutkan.
Bukan dengan rudal. Bukan dengan kapal induk.
Tapi dengan gamelan, batik, angklung, dan gotong royong.
Angka-angka memperkuat tawaran itu.
Budaya dan industri kreatif kini bernilai USD 4,3 triliun di tingkat global.
Setara 6 persen ekonomi dunia.
Bahkan menciptakan 30 juta lapangan kerja mayoritas untuk anak muda.
Indonesia pun merasakan denyutnya:
122 juta orang nonton bioskop tahun lalu.
Ekspor batik naik 76 persen di awal 2025.
Budaya bukan hanya warisan. Budaya sudah jadi ekonomi dan diplomasi.
Menteri Koordinator PMK, Pratikno, mengingatkan: teknologi apalagi AI tidak boleh melunturkan identitas.
“AI harus dikelola untuk memperkuat bahasa dan budaya. Bukan menghapusnya,” ujarnya.
Yang paling kuat justru suara dari luar negeri.
Menteri Dalam Negeri Zimbabwe, H.E. Kazembe, membawa filosofi Ubuntu: saya ada karena Anda ada.
Perwakilan pemuda Palestina, Jana Abusalha, mengingatkan:
“Setiap tarian di tengah krisis adalah cara damai kami berkata: kami ada, kami bertahan.”
Deklarasi Bali 2025 lahir.
Isinya: budaya kini ditempatkan setara dengan politik, ekonomi, dan keamanan global.
Budaya menjadi kompas masa depan menghadapi krisis.
Hashim S. Djojohadikusumo menyebutnya sudah lama:
“Indonesia ini persimpangan peradaban. Jangan hanya melestarikan budaya, tapi dorong jadi motor diplomasi dan ekonomi,” ujarnya.
CHANDI 2025 menjawab itu.
Delegasi diajak membatik, mendengar angklung, melihat keris, hingga berjalan di Desa Panglipuran.
Di situ budaya bukan teori. Tapi pengalaman nyata.
UNESCO pun terang-terangan menyebut: Indonesia adalah super power budaya.
Tapi intinya bukan soal gelar.
Yang lebih penting: dunia yang tegang ini butuh tawaran damai.
Dan Indonesia memilih budaya sebagai senjatanya.
Pertanyaan sederhana pun lahir:
Ketika adidaya lain bicara perang,
apakah Indonesia bisa memaksa dunia mendengar lewat budaya?
Bali baru saja membuktikan: bisa.
Editor : Redaksi