x jelajahnusantara.co skyscraper
x jelajahnusantara.co skyscraper

Warisan di Ujung Nafas: Menyusuri Jalan Menuju Candi Gajah Mojokerto

Avatar jelajahnusantara.co
Wibowo
Rabu, 10 Sep 2025 07:32 WIB
Petualang

JELAJAH NUSANTARA - Kabupaten Mojokerto punya beban sejarah yang tidak ringan. Ia pernah jadi pusat dunia dunia dalam ukuran Jawa abad ke-14. Dari sinilah Majapahit menguasai Nusantara. Tapi, justru di sudut sunyi, jauh dari keramaian kota, berdiri sebuah situs yang namanya jarang muncul di brosur wisata: Candi Gajah.

Untuk mencapainya, tidak cukup hanya niat. Dibutuhkan napas panjang. Jalan menanjak, penuh pepohonan yang meneduhkan sekaligus menantang, harus ditapaki lebih dulu. Seolah siapa pun yang ingin menyentuh peninggalan ini, harus diuji ketekunan dan kesabarannya.

Begitu sampai di puncak, semua rasa lelah langsung cair. Udara pegunungan Mojokerto menyambut dengan dingin yang menenangkan. Dari atas sini, mata bisa menyapu hamparan sawah, perbukitan, hingga siluet gunung yang seakan menjaga di kejauhan. Suasananya magis. Ada getaran yang membuat siapa pun teringat: di sinilah dulu sebuah peradaban besar pernah berdiri.

Candi Gajah tidak semegah Candi Tikus. Tidak seterkenal Candi Brahu. Bahkan tidak seramai Candi Jedong yang lebih mudah dijangkau. Ia berdiri sederhana. Dibangun dari batu andesit. Sebagian sudah retak. Sebagian runtuh. Tapi justru dari kerusakan itulah terasa tuanya usia.

Bentuknya menyerupai gajah itulah sebabnya nama itu melekat. Relief yang masih tersisa menunjukkan kepiawaian nenek moyang kita dalam memahat. Ada detail, ada seni, ada cerita. Seakan setiap guratan batu menyimpan pesan yang masih relevan: bahwa manusia bisa hilang, tapi karyanya bisa bertahan melawan waktu.

Bagi masyarakat sekitar, candi ini bukan sekadar batu berukir. Ia punya jiwa. Konon dulu, Candi Gajah adalah tempat ritual dan peribadatan. Hingga kini, saat tradisi adat digelar, tempat ini masih jadi bagian dari kehidupan spiritual warga. Seperti ada garis halus yang menghubungkan masa Majapahit dengan Mojokerto hari ini.

Sayangnya, perhatian terhadap Candi Gajah masih kalah jauh. Ia tidak banyak tersentuh promosi wisata. Ia tidak banyak tersentuh dana pemeliharaan. Beberapa bagian sudah rapuh, rawan runtuh bila hujan deras terus menghantam.

Pemerintah daerah memang berusaha. Komunitas pecinta sejarah pun ikut bergerak. Tapi tanpa kesadaran bersama, Candi Gajah bisa lenyap perlahan bukan karena perang, bukan karena bencana, tapi karena kelalaian.

Padahal, Candi Gajah punya potensi besar. Wisata sejarah dan wisata alam berpadu di sini. Tempat ini bisa jadi tujuan unggulan. Anak-anak sekolah bisa belajar sejarah Majapahit sambil merasakan udara pegunungan. Wisatawan bisa mengisi media sosial mereka dengan foto-foto berlatar pemandangan indah. Dan masyarakat sekitar bisa merasakan dampak ekonomi dari kunjungan yang meningkat.

Candi Gajah adalah bukti. Bahwa Mojokerto bukan hanya kota satelit Surabaya. Bahwa ia punya identitas yang dalam, yang melekat pada tanah, pada batu, pada cerita.

Ia memang tidak sebesar Borobudur. Tidak seterkenal Prambanan. Tapi justru karena itu, ia jujur. Ia apa adanya.

Menjaga Candi Gajah berarti menjaga identitas Mojokerto sebagai bumi Majapahit. Sebagai tanah yang pernah melahirkan kerajaan besar, dan kini melahirkan tanggung jawab besar: melestarikan warisan itu.

Sebab kalau tidak, apa yang akan kita ceritakan pada anak cucu nanti?

Editor : Redaksi

Artikel Terbaru
Selasa, 09 Sep 2025 18:20 WIB | Pariwisata
JELAJAH NUSANTARA - Ada satu cara sederhana untuk melarikan diri dari dunia yang serba cepat: pergi ke Jambi.Bukan ke pusat kota. Tapi ke pelukan ...
Selasa, 09 Sep 2025 12:56 WIB | Petualang
JELAJAH NUSANTARA - Banyuwangi selalu punya cara membuat orang datang. Tak hanya karena kawah Ijen dengan api birunya yang sudah mendunia. Tapi juga karena ...
Senin, 08 Sep 2025 12:28 WIB | Budaya
JELAJAH NUSANTARA - Dunia sedang gaduh.Konflik senjata di Timur Tengah. Ketidaksetaraan di Afrika. Persaingan adidaya di Asia. Di tengah itu, Bali bicara ...