x jelajahnusantara.co skyscraper
x jelajahnusantara.co skyscraper

1001 Wajah Tengger

Avatar jelajahnusantara.co
Rahmad Hidayat
Jumat, 12 Sep 2025 07:44 WIB
Budaya

JELAJAH NUSANTARA - Ada sebuah bangsa kecil. Tinggal di atas gunung. Dingin. Berkabut. Seperti dunia yang terpisah dari tanah rendah. Mereka: suku Tengger.

Wajah mereka keras. Terbakar matahari. Tapi juga teduh. Lembut. Seperti awan yang selalu mengiringi hari-hari di lereng Bromo.

Mereka menyebut dirinya “anak cucu Roro Anteng dan Joko Seger.” Legenda itu hidup. Bukan sekadar cerita untuk menidurkan anak. Tapi napas. Identitas. Penanda: inilah Tengger.

Saya menyebutnya “1001 wajah Tengger.” Karena setiap wajah membawa cerita sendiri. Wajah petani yang sejak subuh sudah menuruni ladang kentang. Wajah perempuan yang setiap pagi menata sesajen di pura kecil. Wajah anak-anak dengan pipi merah, berlarian mengejar kabut seperti mengejar mimpi.

Mereka hidup di antara langit dan pasir. Di atas Lautan Pasir Bromo yang kelabu. Tempat yang setiap tahun mereka persembahkan sesajen dalam upacara Kasada. Wajah-wajah itu bercahaya di tengah kobaran obor. Seolah-olah api kecil itu menyala bukan sekadar penerang malam, tapi juga penerang hati.

Ada wajah tua yang penuh keriput, tapi matanya masih tajam. Mengingatkan bahwa hidup di Tengger adalah bertahan. Bertahan dari dingin. Bertahan dari kerasnya alam. Tapi juga bertahan dari gempuran modernitas yang setiap tahun semakin dekat.

Ada wajah muda yang kini mulai bermain dengan gawai. Tapi tetap, di hari-hari besar, mereka kembali mengenakan udeng, kebaya, dan selendang. Seperti kembali mengingatkan diri: “Kami orang Tengger. Kami anak gunung.”

1001 wajah itu adalah mosaik. Tidak ada yang sama. Tapi semua berpaut pada satu akar: keyakinan. Mereka percaya menjaga alam adalah menjaga diri sendiri. Itu sebabnya gunung bagi mereka bukan sekadar tanah tinggi. Gunung adalah rumah. Gunung adalah leluhur.

Saya pernah melihat wajah seorang pemuda Tengger saat matahari muncul di balik Gunung Penanjakan. Matanya berkaca-kaca. Ia bilang, setiap kali melihat matahari di atas Bromo, ia merasa lahir kembali. Seperti hari baru. Seperti hidup baru.

Mungkin itulah rahasia mengapa orang Tengger tidak pernah habis. Tidak pernah lelah. Wajah-wajah mereka bisa berubah oleh zaman. Tapi jiwa mereka tetap sama: sederhana, tulus, dan menyatu dengan alam.

Itulah 1001 wajah Tengger. Wajah yang akan terus hidup. Selama kabut masih turun di Bromo. Selama Kasada masih menyala di Lautan Pasir. Dan selama matahari masih terbit dari balik Penanjakan.

Editor : Redaksi

Artikel Terbaru
Rabu, 10 Sep 2025 08:25 WIB | Budaya
JELAJAH NUSANTARA - Boleh jadi, tak banyak yang tahu. Bahwa Topeng Panji yang kini sering dianggap sekadar tari topeng sebenarnya adalah warisan paling sakral ...
Rabu, 10 Sep 2025 07:32 WIB | Petualang
JELAJAH NUSANTARA - Kabupaten Mojokerto punya beban sejarah yang tidak ringan. Ia pernah jadi pusat dunia dunia dalam ukuran Jawa abad ke-14. Dari sinilah ...
Senin, 08 Sep 2025 12:28 WIB | Budaya
JELAJAH NUSANTARA - Dunia sedang gaduh.Konflik senjata di Timur Tengah. Ketidaksetaraan di Afrika. Persaingan adidaya di Asia. Di tengah itu, Bali bicara ...