TN Bromo Tengger Semeru (Foto: Rahmat Hidayat/Jelajah Nusantara)
JELAJAH NUSANTARA - Ada tiga dunia di satu tempat.
Tiga ekosistem. Tiga wajah hutan. Semua berdiri di bawah satu atap besar bernama Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS).
Bedanya hanya ketinggian.
Bedanya hanya berapa meter kita melangkah lebih tinggi dari permukaan laut.
Semakin naik, semakin berubah. Semakin meninggi, semakin berkurang. Dari hutan tropis raksasa dengan pohon berdiameter ratusan tahun, hingga lahan tandus penuh pasir dan batu tanpa sehelai vegetasi pun.
Gunung Bromo (Foto: Rahmat Hidayat/Jelajah Nusantara)
Pertama: Sub Montana.
750 sampai 1.500 meter di atas laut.
Inilah wajah tropis yang masih utuh. Rimbun. Penuh kehidupan. Hutan primer yang usianya mungkin lebih tua dari sejarah republik ini.
Batang-batang kayu berdiameter besar, menjulang tinggi, menjadi penyangga langit di selatan dan timur Semeru.
Di sinilah keluarga besar Fagaceae, Moraceae, Anacardiaceae, Sterculiaceae, Rubiaceae, Araceae, Poaceae, hingga Zingiberaceae hidup berdampingan.
Lebih dari itu: 226 jenis anggrek liar juga memilih zona ini sebagai rumah. Beberapa di antaranya langka. Beberapa lain epifit yang menempel di batang-batang tua. Sisanya, anggrek tanah yang setia menjaga dasar hutan.
Hutan yang dalam keheningannya seperti menyimpan bisikan ratusan tahun lalu.
Gunung Bromo (Foto: Rahmat Hidayat/Jelajah Nusantara)
Kedua: Montana.
1.500 sampai 2.400 meter.
Hutan sekunder. Tidak serapat di bawah tadi. Tidak semegah Sub Montana. Tapi punya karakternya sendiri.
Cemara (Casuarina junghuhniana) mulai mendominasi. Begitu juga mentigi (Vaccinum varingifolium). Kemlandingan gunung (Albizzia lophanta) ikut mewarnai. Ada juga akasia (Acacia decurens), edelweis (Anaphalis longifolia), hingga calingan (Centella asiatica).
Dan yang paling unik: Laut Pasir Tengger.
Sebuah ekosistem khas, hanya ada di kaldera itu. Di tengah tandus pasir, tumbuh anggrek tanah endemik: Hebenaria tosariensis. Anggrek yang tidak memilih tempat teduh dan rimbun, tapi justru bertahan di kerasnya laut pasir.
Kontras. Tapi nyata.
Gunung Bromo. (Foto: Rahmat Hidaya/Jelajah Nusantara)
Ketiga: Sub Alpin.
Di atas 2.400 meter.
Di sinilah dunia mulai merunduk. Segala yang tumbuh menjadi kerdil.
Cemara, mentigi, kemlandingan gunung, edelweis — semua mengecil dari ukuran biasanya. Angin semakin menusuk. Udara semakin tipis. Dan semakin ke atas, vegetasi mulai lenyap.
Di Arcopodo, menuju puncak Semeru, yang tersisa hanya hamparan pasir curam dan batu.
Kosong. Tanpa hijau. Tanpa suara kehidupan. Seperti dunia lain.
Tiga zona ini seperti tiga bab dalam satu kitab.
Kitab tentang kehidupan yang bertahan di gunung. Tentang bagaimana alam menyesuaikan diri dengan ketinggian, suhu, dan kerasnya lingkungan.
TN BTS bukan sekadar destinasi wisata. Ia laboratorium raksasa. Laboratorium alami yang merekam pelajaran paling jujur: bahwa kehidupan selalu menemukan cara untuk bertahan.
Entah di hutan primer dengan pepohonan tua. Entah di Laut Pasir yang gersang. Entah di puncak tandus Semeru.
Semua punya wajahnya sendiri. Semua punya kisahnya sendiri.
Editor : Redaksi