Ranu Kumbolo (Foto: Rahmat Hidayat/Jelajah Nusantara)
JELAJAH NUSANTARA - Orang datang ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS) biasanya hanya satu tujuan: Bromo. Lalu pulang. Padahal, di balik debu pasir dan riuh kuda di lautan kaldera itu, ada dunia lain yang jauh lebih tenang. Hening. Bahkan magis.
Dunia air.
Di kawasan TN BTS, air mengalir bukan hanya dari langit. Ia mengendap, berkumpul, dan membentuk ranu—danau kecil di ketinggian. Ada pula air yang jatuh deras dari tebing: coban.
Air adalah wajah lain dari TN BTS. Wajah yang jarang ditatap.
Ranu Kumbolo (Foto: Rahmat Hidayat/Jelajah Nusantara)
Mari mulai dari yang paling kecil: Ranu Darungan. Luasnya hanya setengah hektare. Di ketinggian 900 meter dpl, di Pronojiwo, Lumajang. Ranu ini seperti halaman depan yang sejuk sebelum melangkah lebih jauh ke rimba Semeru. Airnya jernih, lingkungannya teduh. Seperti kolam rahasia yang sengaja disimpan alam untuk yang mau mencarinya.
Naik lebih tinggi, kita menemukan Ranupani. Danau seluas 1,55 hektare di ketinggian 2.100 meter. Inilah kampung terakhir para pendaki Semeru. Desa Ranupani. Dari sinilah ribuan langkah dimulai menuju Mahameru. Ranupani bukan hanya air yang diam, ia saksi. Setiap pendaki, setiap doa, setiap kerikil langkah—semua berawal dari tepi danau ini.
Tetangganya: Ranu Regulo. Lebih kecil, 1,20 hektare. Tapi jauh lebih sunyi. Tempat di mana kabut turun lebih cepat dari matahari. Banyak yang lebih memilih menginap di Regulo daripada Ranupani. Alasannya sederhana: sepi. Di sana, malam benar-benar gelap. Hanya bunyi serangga dan riak air yang mengingatkan, bahwa kesunyian itu masih ada di dunia.
Lalu, ada sang primadona: Ranu Kumbolo. Delapan hektare. 2.390 meter di atas laut. Dikelilingi bukit hijau. Inilah titik perhentian yang legendaris. Tempat di mana matahari pagi muncul dari celah bukit dan memantul di permukaan air. “Sunrise Kumbolo” adalah janji yang selalu ditepati alam. Tidak ada kafe, tidak ada hotel. Hanya tenda-tenda berwarna-warni di tepi danau, dan cerita yang mengendap dalam hati setiap orang yang pernah semalam di sana.
Editor : Redaksi