JELAJAH NUSANTARA - EIGER.
Nama yang sudah identik dengan gunung, petualangan, dan anak muda yang suka menjajal batas. Dari Bandung ia lahir. Dari kaki gunung ia tumbuh. Tapi kini, langkahnya justru berlabuh ke kota yang jauh dari dinginnya kabut: Surabaya.
Bukan sekadar toko biasa. Bukan pula sekadar etalase barang-barang berlogo “E”. Yang dibuka kali ini adalah sebuah toko khusus: EIGER Women & Junior. Pertama di Indonesia. Dan pilihannya jatuh ke Surabaya.
Baca juga: Pemerintahan Model Anak Magang
Mengapa Surabaya?
Agnes Lukito, Head Division EIGER Women & Junior, punya jawabannya.
“Surabaya itu istimewa. Basis penggemar kami sangat kuat di sini. Sudah ada belasan toko EIGER berdiri. Tapi yang khusus perempuan dan anak, baru kali ini,” ujarnya.
Agnes tidak sedang berlebihan. Kota ini memang magnet. Tiga juta penduduk. Dikelilingi pegunungan di Jawa Timur. Gunung Penanggungan, Arjuno, Semeru, sampai Bromo — semuanya ada dalam radius beberapa jam perjalanan dari Surabaya. Pasarnya jelas: besar dan dekat dengan alam.
Lama sekali perempuan dianggap hanya “mengikuti” dalam dunia outdoor. Mendaki? Camping? Trail running? Selalu terdengar sebagai urusan laki-laki. Peralatan perempuan? Kalau ada pun, biasanya hanya versi kecil dari produk pria.
EIGER mencoba membalik itu. Membuat perempuan sebagai subjek, bukan sekadar objek. Lini Women & Junior dirancang sejak awal untuk kebutuhan mereka. “Bisa dipakai kuliah, bisa dipakai ngopi, bisa juga untuk mendaki. Versatile,” kata Agnes.
Bahkan warnanya pun berbeda. Lebih hangat. Lebih berani. Lebih personal. Tidak lagi warna gelap-maskulin yang biasa memenuhi rak toko outdoor.
Baca juga: Viral Satu Paragraf vs Jurnalis Seribu Kata
Yang menarik, desain produk ini tidak lahir dari ruang rapat yang penuh laki-laki. Melainkan dari meja kerja para perempuan. Jeaniecia Halim, Head Product Designer EIGER Women & Junior, bilang, mayoritas desainer di timnya adalah perempuan. Banyak yang juga seorang ibu.
“Produk ini lahir dari perempuan untuk perempuan. Kami juga menguji coba langsung bersama perempuan dan anak-anak pecinta alam,” ujarnya.
Itulah mengapa, koleksi EIGER kali ini terasa lebih jujur. Lebih membumi. Bukan sekadar produk yang ditempeli label “wanita”, tapi memang hasil pengalaman nyata: dari perempuan yang mendaki gunung, membawa anak, hingga harus tetap stylish saat kembali ke kota.
Mengapa tidak dibuka di Bandung lebih dulu, kota kelahiran EIGER?
Ternyata ada strateginya. Surabaya jadi pasar percobaan. Jabodetabek akan menyusul. Baru setelah matang, Bandung akan mendapat kehormatan. Seperti seorang anak yang merantau dulu, baru kembali pulang membawa pengalaman.
Baca juga: Kidung Tengger dan Tabuhan Doa dari Perut Gunung
Di satu sisi, ini bisnis. Surabaya punya daya beli, punya komunitas outdoor yang solid, punya generasi muda yang aktif. Tapi di sisi lain, ada semacam “pengakuan” dari EIGER: bahwa perempuan kini sudah menjadi tulang punggung dalam dunia petualangan.
Dan Surabaya dipilih sebagai panggung pertamanya.
Sejarah kecil sudah ditulis. Dari Bandung menuju Surabaya. Dari gunung menuju kota. Dari maskulin menuju inklusif. Nama toko itu sederhana: EIGER Women & Junior Surabaya. Tapi maknanya panjang: bahwa perempuan dan anak-anak juga berhak punya panggung di dunia petualangan.
Editor : Redaksi