Tarian untuk Leluhur di Senja Banyuwangi

jelajahnusantara.co
Gandrung (Foto: S. Kurniawan/Jelajah Nusantara)

JELAJAH NUSANTARA - Pantai Marina Boom sore itu berubah menjadi lautan warna. Ribuan selendang berkibar serempak di bawah langit yang mulai jingga. Suara gamelan mengalun. Ribuan kaki menapak pasir, menari dalam irama yang sama — seperti gelombang laut yang bergerak penuh harmoni. Inilah Festival Gandrung Sewu 2025.

Sebanyak 1.300 penari Gandrung tampil memukau. Dari anak sekolah hingga penari profesional. Dari desa-desa di kaki Gunung Ijen hingga pesisir Blambangan. Mereka menari membawa satu tema besar: “Selendang Sang Gandrung.” Tema yang bukan sekadar nama, tapi kisah panjang tentang warisan budaya, cinta kasih, dan perjuangan masyarakat Osing menjaga tradisi leluhur mereka agar tak hilang ditelan waktu.

Baca juga: Festival Ini Tidak Pernah Mati

Puji Astuti duduk di antara penonton dengan mata berbinar. Ia bukan sekadar penonton ia adalah ibu dari Anggis Rintalia, penari muda berusia 17 tahun dari Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Anggis adalah siswi kelas 3 SMK PGRI 2 Giri, dan sejak kecil sudah akrab dengan lantunan gamelan Gandrung.

“Dia menari sejak TK,” kata Puji lirih. “Ayah-ibunya bukan penari. Tapi embah-nya penari Gandrung di desa kami. Dari kecil Anggis diajari kakeknya sendiri. Katanya, kalau menari itu bukan soal langkah, tapi soal jiwa.”

Sejak kelas 2 MTS, Anggis tak pernah absen dari panggung Gandrung Sewu. Setiap tahun ia ikut, meski harus berlatih berbulan-bulan di bawah terik matahari. “Kalau latihan, tangannya sampai lecet karena terus memegang selendang,” cerita Puji. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Baginya, menari Gandrung bukan sekadar tampil tapi melanjutkan doa yang diwariskan kakeknya.

Baca juga: Ketika IFI Jadi Kampung Seni

Festival Gandrung Sewu bukan hanya tontonan. Ia adalah ritual sosial. Ada prosesi sakral sebelum pertunjukan: penari muda diajari, diuji, lalu “dinobatkan” menjadi Gandrung profesional oleh penari senior. Sebuah simbol bahwa budaya Banyuwangi tidak mati ia diwariskan, ditumbuhkan, dan dihidupkan kembali di setiap generasi.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani pun tak menahan kebanggaan.
“Gandrung Sewu bukan sekadar pertunjukan,” ujarnya. “Ini adalah bentuk konsolidasi sosial dan kebanggaan budaya masyarakat Banyuwangi.”

Baca juga: Misteri Panji: Tari untuk Raja yang Tak Boleh Diketahui Rakyat

Ia benar. Dalam setiap kibasan selendang itu, ada makna yang lebih dalam dari sekadar tari. Ada cinta. Ada warisan. Ada perlawanan terhadap lupa.

Ketika matahari tenggelam di ufuk barat, bayangan para penari memanjang di atas pasir. Musik mengalun lebih cepat. Gerak mereka semakin padu. Seolah seluruh Banyuwangi sedang berdoa dalam bentuk tarian.

Dan di antara mereka di antara 1.300 penari yang menari dalam debu dan cahaya ada Anggis, cucu dari seorang penari desa, yang menari untuk leluhurnya. Menari untuk tanahnya. Menari agar dunia tahu: Gandrung tidak akan pernah berhenti.

Editor : Redaksi

Feature
Populer
Berita Terbaru