Ranu Kumbolo (Foto: Rahmat Hidayat/Jelajah Nusantara)
JELAJAH NUSANTARA - Ranu Kumbolo.
Nama itu selalu disebut setiap kali orang bicara tentang Semeru.
Danau di ketinggian 2.400 meter itu jadi semacam “ruang tamu” bagi pendaki. Tempat mereka berhenti. Menghela napas. Mengisi botol minum. Lalu mendirikan tenda sebelum melanjutkan perjalanan ke Mahameru.
Airnya jernih. Dinginnya menggigit. Tapi itulah sumber kehidupan di jalur pendakian Semeru.
Tidak banyak yang tahu. Danau ini bukan sekadar tempat singgah. Ia punya sejarah panjang. Sejarah geologi. Sejarah manusia.
PVMBG mencatat, Ranu Kumbolo terbentuk dari kawah Gunung Jambangan. Gunung yang kini tinggal nama di jalur pendakian. Kawah itu memadat. Air hujan yang turun tidak lagi bisa mengalir ke bawah. Ia mengendap. Jadi telaga. Jadi danau.
Danau ini bukan hanya soal pemandangan. Ia juga laboratorium alam. Burung belibis singgah di sini. Airnya jadi cadangan hidup. Tanah sekitarnya menyimpan cerita masa lalu.
Di tepi barat danau, ada sebuah prasasti. Batuan dengan tulisan Jawa kuno. Membuat para pendaki heran setiap kali menemukannya.
Tulisan itu berbunyi: Ling Deva Mpu Kameswara Tirthayatra.
Sejarawan M.M. Sukarto Atmojo pernah menafsirkan: Prabu Kameswara, raja dari Kerajaan Kadiri, pernah melakukan perjalanan suci ke Semeru. Tahun prasasti itu sekitar 1182 Masehi.
Artinya, 800 tahun lalu, Semeru sudah jadi tempat ziarah. Bukan hanya jalur pendakian.
Sejarah Semeru sendiri penuh letusan.
Catatan pertama: tahun 1818.
Lalu hampir tiap dekade.
1941-1942: lava turun panjang.
1977: awan panas sejauh 10 km.
2008: letusan berulang di kawah Jonggring Seloko.
Dan yang paling diingat orang: 4 Desember 2021. Awan panas meluncur ke Lumajang. Menyapu rumah, sawah, jembatan.
Semeru tidak berhenti. Karena memang ia gunung api aktif.
Ranu Kumbolo adalah saksi bisu semua itu.
Ia tetap tenang. Tetap menyimpan air. Tetap jadi tujuan para pendaki.
Setiap pagi, kabut tipis menari di atas permukaannya. Matahari perlahan muncul dari balik bukit. Bayangan para pendaki memantul di air yang jernih.
Di situlah daya tariknya.
Di situlah Ranu Kumbolo tidak hanya jadi danau. Tapi jadi bagian dari sejarah panjang Semeru.
Editor : Redaksi