Dian Erra Kumalasari
JELAJAH NUSANTARA - Saya bertemu Dian Erra Kumalasari, founder Oerip Indonesia, di sebuah kafe di kawasan Taman Dayu, Pasuruan. Udara sore itu sejuk. Kopi hitam mengepul di meja. Dari situ, obrolan panjang mengalir.
Dian bercerita tentang perjalanan hidupnya. Tentang 17 tahun menelusuri wastra Nusantara. Tentang kain yang ia cari dari Sabang sampai Merauke. Tentang motif, filosofi, dan kegelisahan yang sering ia temukan di setiap perjalanan.
“Kain itu tidak pernah diam. Ia selalu bercerita,” katanya pelan.
Perjalanannya membawanya ke Tosari, di lereng Bromo. Desa kecil, dingin, penuh ladang kentang dan bawang. Di sana ia menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Sarung, tenun, batik yang dipakai masyarakat Tengger hampir semuanya dibeli dari luar. Dari Mojokerto. Hampir tidak ada yang dibuat sendiri.
Tradisi batik di Tengger? Hampir hilang. Tertelan oleh kesibukan bertani.
Tapi di tengah kegelisahan itu, muncul satu nama: Mas Yayak.
Bukan pengusaha. Bukan pedagang. Hanya perajin sederhana yang membuat udeng ikat kepala khas Tengger. Bedanya, udeng buatan Yahya tidak dijual. Ia dipersembahkan. Untuk para dukun.
“Bagi saya, udeng itu doa. Simbol penghormatan,” ujar Yayak, seperti yang diceritakan Dian.
Kisah Yayak itu membuat Dian terdiam lama.
Ia merasa menemukan suara kain Tengger. Bukan di pasar. Bukan di toko. Tapi di kepala para dukun. Dalam bentuk udeng yang penuh makna.
“Dari sana saya belajar. Bahwa kain tidak selalu lahir dari kebutuhan ekonomi. Ada kain yang lahir dari kegelisahan. Dari doa. Dari penghormatan,” kata Dian sambil menyeruput menunjukan kain dari mas Yayak.
Kini, Dian membawa inspirasi itu ke dalam karyanya. Ia sedang menyiapkan koleksi batik Tengger untuk dipamerkan di Moskow.
Motifnya tidak sembarangan. Ada asap dari ritual Tengger. Ada mantra. Ada simbol-simbol sederhana yang punya makna dalam.
“Saya ingin dunia melihat kain Indonesia bukan sekadar fesyen. Tapi sebagai peta kehidupan,” ujarnya.
Percakapan kami sore itu panjang. Tentang perjalanannya ke Papua, ke Kalimantan, ke Sulawesi. Tentang desa-desa tenun yang ia datangi. Tentang benang yang habis di Sarmi hingga orang Papua menenun dari serat alam. Tentang filosofi yang selalu berbeda di setiap daerah.
Dan akhirnya tentang Tosari. Tentang Yahya. Tentang udeng yang tidak dijual.
Oerip Indonesia, kata Dian, lahir dari perjalanan panjang itu. Ia bukan sekadar brand. Ia adalah ruang untuk menghidupkan cerita kain.
Tantangannya besar. Membatik butuh waktu. Bertani menghasilkan lebih cepat. Kultur dan ekonomi seringkali menjadi tembok.
“Tapi selalu ada benang harapan,” katanya. “Seperti di Tosari. Ada Yayak. Ada kita yang mau mendengarkan cerita kain. Itu cukup untuk memulai.”
Sore semakin gelap. Kopi di meja sudah dingin. Tapi cerita Dian masih hangat.
Saya meninggalkan kafe itu dengan satu kalimat yang terus terngiang:
“Kain tidak pernah diam. Ia selalu bercerita.”
Editor : Redaksi