Gelombang Cinta dari Surabaya
JELAJAH NUSANTARA - Suasana di Kopi Mountain, Ngagel, Minggu sore (21/9/2025), berbeda dari biasanya. Bukan sekadar aroma kopi yang menenangkan. Ada aroma lain: solidaritas. Puluhan orang dari berbagai komunitas tumplek blek di sana. Mereka datang tanpa seragam. Tanpa atribut. Tapi dengan satu hati. Satu tujuan: Bali.
Namanya acara itu Gelombang Cinta: Satu Hati untuk Bali. Judul yang sederhana. Tapi dampaknya terasa dalam. Di panggung kecil, bukan artis yang jadi bintang. Melainkan baju. Kaos. Jaket. Kemeja. Barang yang sehari-hari mungkin hanya kita anggap sepele. Tapi sore itu, setiap helai punya cerita. Punya harga. Punya makna.
Ada yang melelang kaos band lawas. Ada yang membawa kemeja retro. Bahkan sebuah t-shirt legend dengan tanda tangan musisi lokal sempat memancing rebutan. Nilainya? Tidak penting berapa. Yang penting: uangnya. Karena semua hasil lelang langsung masuk kotak donasi. Untuk Bali. Untuk mereka yang sedang berjibaku dengan banjir.

Pipit Ika, salah satu penggagas, tampil sederhana. Tidak banyak kata-kata indah. Ia hanya mengingatkan: kepedulian itu tidak mengenal genre. Tidak mengenal komunitas. Tidak mengenal hobi. “Hari ini Bali. Besok bisa jadi kita. Yang penting jangan kehilangan empati,” katanya. Ringkas. Padat. Tapi dalam.
Lalu, sesi akustik mengalun. Indonesia Raya dinyanyikan bersama. Kopi pun diseruput. Diskusi ringan berlanjut. Beberapa pengunjung yang awalnya hanya ingin nongkrong, akhirnya ikut melebur. Mereka membeli kaos. Membeli jaket. Membeli solidaritas.

Surabaya sore itu terasa hangat. Hangat oleh tawa. Hangat oleh kepedulian. Gelombang cinta itu benar-benar nyata. Bukan sekadar slogan. Bukan pula sekadar acara. Tapi sebuah pengingat: bahwa kita bisa. Dari kota ini. Dari sebuah kafe sederhana di Ngagel. Bahwa solidaritas tidak perlu gedung mewah. Cukup satu meja lelang. Satu panggung kecil. Dan satu hati besar.
Editor : Redaksi