Teaterikal Perobekan Bendera (Foto: Wibowo/Jelajah Nusantara)
JELAJAH NUSANTARA - Pagi itu, 80 tahun silam, Surabaya mendidih.
19 September 1945. Hanya sebulan setelah Proklamasi.
Di Jalan Tunjungan, tepat di atap Hotel Yamato.
Bendera tiga warna Merah, Putih, Biru berkibar.
Di bawahnya, arek-arek Suroboyo bergemuruh.
Marah. Panas.
Bukan sekadar kain yang mereka lihat. Itu penghinaan.
Belanda, lewat W.V.C. Ploegman, seenaknya mengibarkan kembali simbol kolonialisme.
Padahal, di tanah ini, Residen Sudirman sudah tegas membacakan Proklamasi.
3 September 1945, rakyat Surabaya berjanji: hanya Merah Putih yang boleh berkibar.
Maka pecahlah sejarah.
Perundingan gagal. Ploegman keras kepala.
Sudirman tak bisa menahan massa yang kian murka.
Di tengah riuh, Hariyono, Kusno, dan para pemuda memutuskan: tiang itu harus direbut.
Mereka memanjat. Menurunkan.
Lalu merobek bagian biru.
Meninggalkan hanya Merah dan Putih.
Ribuan orang di bawahnya berteriak “Merdeka!”.
Indonesia Raya pun berkumandang, tanpa pengeras suara, tapi membahana di dada semua yang hadir.
Sejak hari itu, Surabaya bukan sekadar kota. Ia menjadi simbol.
Dan insiden perobekan bendera di Yamato menjelma api—api yang kelak meledak pada 10 November. Hari ketika Surabaya resmi dicatat dunia sebagai Kota Pahlawan.
Kini, delapan dekade kemudian, Surabaya tak ingin kenangan itu sekadar beku di buku sejarah.
Ia dihidupkan. Dalam sebuah panggung kolosal.
Teatrikal “Surabaya Merah Putih”.
Bukan pertunjukan biasa.
Panggungnya jalanan. Lokasinya persis di depan Hotel Majapahit—dulu Yamato.
Waktunya: Minggu pagi, 21 September 2025, bertepatan dengan Car Free Day.
Pemerintah Kota Surabaya merangkul seniman lintas disiplin, pelajar, komunitas sejarah, veteran, hingga Paguyuban Sepeda Kuno.
Mereka bersatu, menyiapkan 90 menit yang bukan sekadar drama.
Ada musik keroncong, tarian, teater, puisi, parade sepeda kuno.
Semua diramu agar atmosfer Surabaya 1945 bisa kembali terasa.
“Bagi kami, ini bukan sekadar teater. Ini ritual. Ini cara kami mengembalikan ingatan kolektif rakyat Surabaya, bahwa Merah Putih yang kita nikmati hari ini pernah direbut dengan darah dan nyawa,” ujar Heri Lentho, sutradara Teatrikal “Surabaya Merah Putih”.
Ia menambahkan, “Saya ingin generasi muda tidak hanya menonton, tapi merasakan. Mendengar pekikan merdeka yang menggema, merinding bersama ketika Indonesia Raya dinyanyikan. Karena tanpa rasa, sejarah hanya jadi hafalan. Dengan rasa, sejarah bisa hidup kembali.”
Seakan kita diajak masuk ke mesin waktu.
Merasakan getar dada para pemuda kala itu.
Merasakan takut yang berubah jadi keberanian.
Merasakan solidaritas yang mengalahkan rasa lapar, lelah, dan kematian.
Teatrikal ini bukan sekadar tontonan. Ia peringatan.
Bahwa kemerdekaan bukan hadiah.
Bahwa Merah Putih bukan sekadar kain.
Ia adalah robekan robekan biru yang disertai darah dan nyawa.
Generasi muda Surabaya diajak belajar dari teater ini.
Bahwa keberanian bukan monopoli masa lalu.
Ia harus diwariskan. Harus dijaga.
Karena bangsa tanpa ingatan adalah bangsa tanpa arah.
Dan Surabaya tahu betul, dari atap Hotel Yamato-lah arah itu pertama kali ditunjukkan.
Editor : Redaksi