Temu Karya Taman Budaya (Foto: Istimewa)
JELAJAH NUSANTARA - Banjarmasin tiba-tiba jadi pusat panggung Nusantara. Minggu sore, 14 September 2025. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, berdiri di hadapan para seniman. Resmi membuka Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia ke-24.
Di kota seribu sungai itu, selama empat hari, warna-warni Indonesia dikumpulkan. Dari Sabang sampai Merauke. Dari 28 taman budaya yang ada, 21 hadir. Membawa kesenian, membawa tradisi, membawa suara leluhur.
Temanya: Suluh Budaya Gerbang Nusantara.
Sebuah kalimat yang sederhana. Tapi maknanya dalam. Tentang api kecil yang terus dijaga. Tentang pintu besar yang harus dijaga pula. Bahwa budaya adalah pintu masuk. Bahwa akar leluhur adalah pelita.
“Generasi muda kita hari ini mudah sekali terseret arus budaya asing,” kata Ary Heriyanto. Ia adalah Ketua Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia. Sekaligus Kepala UPTD Pengelolaan Kebudayaan Jawa Barat.
Suara Ary terdengar tegas. Seolah ingin menegur. Seolah ingin mengguncang. “Jangan sampai mereka lebih mengenal budaya luar ketimbang budaya sendiri.”
Ia benar.
Hari-hari ini, anak muda lebih cepat hafal lagu Korea. Lebih cepat kenal gaya fashion Jepang. Lebih cepat ikut tren tarian TikTok. Tapi gamelan? Reog? Pantun Melayu? Bahkan banyak yang gagap.
Ary ingin Taman Budaya jadi garda depan. Jadi benteng. Jadi bentangan sejarah yang tidak putus. Karena Indonesia hari ini: mayoritas anak muda.
Di Gedung Sultan Suriansyah, 15–16 September, akan digelar pertunjukan seni. Dari 21 daerah. Semua tampil. Semua membawa identitas. Semua ingin dikenang.
Ada tari tradisional. Ada musik etnik. Ada teater. Ada seni rupa. Ada pula pameran alat musik khas Kalimantan Selatan.
Bukan sekadar tontonan. Tapi tuntunan.
“Tujuan kegiatan ini adalah mengenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada masyarakat. Menguatkan persatuan bangsa. Memublikasikan eksistensi Taman Budaya. Dan tentu, menjalin silaturahmi,” lanjut Ary.
Silaturahmi. Kata itu sering terdengar. Tapi dalam konteks ini: ia hidup. Para seniman dari 21 provinsi berkumpul. Duduk bersama. Bertukar pikiran. Merumuskan strategi. Agar budaya tidak kalah oleh zaman.
Fadli Zon, sang Menteri, terlihat puas. Ia tahu. Tugas melestarikan budaya tidak bisa dikerjakan pemerintah saja. Tidak bisa hanya lewat kurikulum sekolah. Tidak bisa hanya lewat buku sejarah.
Butuh peristiwa semacam ini. Butuh ruang nyata. Butuh panggung. Agar masyarakat menyaksikan sendiri.
Dan Kalimantan Selatan berhasil membuktikannya.
Banjarmasin kini jadi tuan rumah. Tapi sesungguhnya, yang jadi tuan rumah adalah Nusantara itu sendiri. Dari Kalimantan, pesan itu menyala: budaya tidak boleh padam.
“Terima kasih kepada tuan rumah. Juga seluruh masyarakat Kalsel. Seniman, budayawan, pemerintah daerah. Semua bekerja keras untuk acara ini,” ujar Ary menutup pidatonya.
Di luar gedung, senja Banjarmasin merayap di atas Sungai Martapura. Kapal-kapal kecil melintas. Airnya memantulkan cahaya jingga. Seolah ikut menyambut perayaan budaya.
Temu Karya ini hanya empat hari. Tapi pesan yang dibawanya harus panjang. Panjang seperti sungai-sungai yang melintasi Kalimantan. Dan panjang pula seperti sejarah Indonesia itu sendiri.
Editor : Redaksi