x jelajahnusantara.co skyscraper
x jelajahnusantara.co skyscraper

Hotel Tanpa Tanah

Avatar jelajahnusantara.co
Wibowo
Senin, 15 Sep 2025 14:48 WIB
Ruang

JELAJAH NUSANTARA - Resor ini bukan berdiri di atas tanah.
Ia tumbuh di atas pepohonan.

Kayu jati dan ulin jadi dindingnya. Bukan beton. Bukan semen.

Namanya: Grün Uluwatu. Baru saja dibuka. Di ujung selatan Bali. Di tebing tempat laut dan langit bertemu.

Mereka menyebutnya treehouse retreat.
Bukan vila biasa.
Bukan rumah pohon ala masa kecil yang dibangun seadanya.
Ini suite. Dengan kolam renang pribadi. Dengan pemandangan laut lepas.

Saya membayangkan sore di sana.
Duduk di teras salah satu rumah pohon itu. Menunggu matahari meredup ke garis laut.
Tidak ada suara mesin. Tidak ada deru kendaraan.
Yang terdengar hanya dedaunan bergesek. Sesekali kicau burung.

Florian Holm, pendirinya asal Jerman, bilang singkat:
“Alam yang menginspirasi. Kami yang mengikuti alurnya.”

Desain Grün memang mengikuti alam.
Jalan setapaknya melingkar. Tidak memotong. Pohon-pohon tidak ditebang.
Bangunannya seperti menyelip di antara batang hutan.

Energi listrik? Dari matahari. Disimpan di baterai.
Air? Dikumpulkan. Disaring. Dipakai kembali.

Di sini, keberlanjutan bukan jargon promosi.
Tapi napas.

Di jantung Grün ada La Cima.
Restoran sepanjang hari. Menunya sederhana tapi dalam. Dari kebun agrowisata sekitar. Dari nelayan setempat. Dari bumi sendiri.
Tetap ada sentuhan internasional. Tapi akar tetap di tanah Bali.

Saya suka satu detail kecil:
Api unggun.
Tamu bisa duduk melingkar di sekitarnya. Malam hari. Di bawah langit penuh bintang.
Sesederhana itu. Dan mungkin, justru itulah kemewahan yang sebenarnya.

Wellness bukan tambahan di Grün. Ia pusatnya.
Ada yoga di shala terbuka.
Ada Pilates dengan alat lengkap.
Ada sauna. Ada infinity pool menghadap samudra.

Bagi pasangan bulan madu: pas.
Bagi pecinta yoga: lengkap.
Bagi keluarga dengan anak kecil: tersedia arena bermain.

Grün punya 56 kamar. Vila dan rumah pohon.
Ada halaman rumput seribu meter persegi. Ada dek panorama dua ratus meter persegi.
Untuk pernikahan. Untuk retret. Untuk perayaan.

Lokasinya hanya 18 km dari Bandara Ngurah Rai. Empat puluh menit perjalanan.
Mobil listrik bertenaga surya siap menjemput.

Lebih dari 150 orang kini bekerja di Grün.
Pembukaan resor ini bukan sekadar soal gaya hidup baru. Tapi juga ekonomi. Juga komunitas.

Saya teringat satu hal: Bali sudah penuh hotel. Penuh vila. Penuh resor.
Tapi Grün bukan tambahan dalam daftar panjang itu.
Ia mencoba cara lain.
Menginap, tapi tetap menjaga alam.
Liburan, tapi tanpa meninggalkan jejak berat pada bumi.

Treehouse di Uluwatu ini seperti menawar.
Menawar kegaduhan pariwisata massal. Dengan keheningan. Dengan keberlanjutan.
Dengan sebuah janji: tinggal di antara pohon. Bukan menggusurnya.

Editor : Redaksi

Artikel Terbaru
Senin, 15 Sep 2025 12:54 WIB | Seni
JELAJAH NUSANTARA - Institut Francais Indonesia (IFI) Surabaya biasanya identik dengan seminar. Dengan pidato serius. Dengan para profesor. Dengan slide ...
Minggu, 14 Sep 2025 20:03 WIB | Gaya Hidup
JELAJAH NUSANTARA - Sudah lewat satu dekade. Band rock asal Jakarta ini pernah begitu keras: melawan, menggugat, menyindir. Kini, .Feast datang ke Surabaya ...
Minggu, 14 Sep 2025 19:51 WIB | Ekonomi
JELAJAH NUSANTARA – Masjid itu megah. Kubah birunya tampak dari jauh. Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Biasa dipenuhi jamaah. Kali ini berbeda. Lahan p ...