Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2025. (Foto: Istimewa)
JELAJAH NUSANTARA – Masjid itu megah. Kubah birunya tampak dari jauh. Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Biasa dipenuhi jamaah. Kali ini berbeda. Lahan parkirnya penuh tenda. Pameran. Booth-booth rapi berjajar. Spanduk besar menulis: Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2025.
Bank Indonesia tidak memilih hotel bintang lima. Tidak pula convention hall. Tapi masjid. Tentu bukan kebetulan. Ada pesan kuat. Bahwa ekonomi syariah harus membumi. Dekat dengan umat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, tampil dengan kalimat yang sederhana tapi tajam. “Ada tiga pilar utama yang kami dorong: hilirisasi halal, peningkatan kolaborasi, dan literasi masyarakat,” katanya. Jumat, 12 September 2025. Ia tidak bicara teori. Ia bicara aksi.
FESyar kali ini memang berbeda. Tidak sekadar seremoni. Ada angka-angka yang langsung bicara. Business matching hari pertama saja sudah mencatat pembiayaan Rp15,38 miliar. Perdagangan Rp7,9 miliar. Targetnya Rp25 miliar dan Rp10 miliar. Angka itu jauh lebih tinggi dari capaian tahun lalu.
Ekonomi syariah bukan lagi wacana. Ia sudah mulai jadi motor. Motor untuk stabilitas. Motor untuk transformasi.
Di dalam masjid, seminar tematik digelar. Bukan hanya di ruang VIP. Tapi juga di pondok pesantren. Topiknya lima. Mulai dari literasi keuangan syariah sampai pemberdayaan UMKM halal. Artinya, ekonomi syariah tidak hanya menyasar kelas menengah kota. Tapi juga pesantren.
Konsep tahun ini diberi nama Satu Gerbang. Sederhana. Tapi dalam. Semua pintu diarahkan ke satu arah: integrasi gerakan ekonomi syariah.
Yang menarik, suasana FESyar tidak kaku. Ada pameran produk halal. Ada stand makanan. Ada produk fesyen. Para pengunjung bisa mencicipi, membeli, sekaligus belajar.
FESyar Regional Jawa ini hanya pembuka. Nanti Oktober, Festival Ekonomi Syariah Nasional akan digelar. Lebih besar. Lebih meriah. Tapi Surabaya sudah mencatatkan sesuatu: bahwa ekonomi syariah bisa hidup, bukan hanya di atas kertas.
Dari masjid biru itu, lahir optimisme. Bahwa ekonomi syariah bukan sekadar “ekonomi umat.” Tapi ekonomi yang benar-benar bisa menopang stabilitas dan masa depan daerah.
Editor : Redaksi