JELAJAH NUSANTARA – Satu dekade sudah Sawung Dance Festival berjalan. Enam kali digelar. Bertahan di tengah segala keterbatasan. Ironinya: sampai hari ini, ia masih menjadi satu-satunya festival tari kontemporer di Jawa Timur.
Bukankah Jawa Timur provinsi besar? Dengan jumlah penduduk hampir 41 juta. Dengan Surabaya sebagai kota metropolitan kedua di Indonesia. Tapi untuk urusan tari kontemporer, hanya ada satu panggung: Sawung.
Baca juga: Robekan Biru di Langit Surabaya
Direktur Sawung Dance, Sekar Alit, menegaskan bahwa festival ini digagas sejak awal bukan untuk seremonial. “Sawung adalah ruang tumbuh bersama. Tema Tremor tahun ini ingin menunjukkan bahwa tubuh adalah medan paling jujur dalam merespons zaman,” ujarnya.
Program unggulan Karya Bertumbuh kembali memberi ruang empat koreografer muda dari Ponorogo, Surabaya, dan Banyuwangi. Mereka mendapat residensi dan mentoring bersama koreografer dunia asal Jember, Hari Gulur. Hasilnya ditampilkan di panggung utama.
Baca juga: Ketika IFI Jadi Kampung Seni
Festival juga menghadirkan nama besar: Hartati dari Jakarta dan Ari Ersandi dari Lampung. Keduanya tidak hanya tampil, tapi juga berbagi lewat workshop.
Namun, kehadiran Sawung justru memperlihatkan jurang: minimnya ruang lain. Mengapa Jawa Timur tidak punya festival sekelas ini selain Sawung? Mengapa regenerasi seniman harus bertumpu pada satu panggung saja?
Baca juga: Misteri Panji: Tari untuk Raja yang Tak Boleh Diketahui Rakyat
Sawung Dance Festival 2025 akhirnya bukan hanya pertunjukan. Ia adalah kritik hidup: bahwa ekosistem tari kontemporer Jawa Timur masih rapuh. Ia tumbuh dari kegigihan komunitas. Bukan dari kebijakan negara.
Editor : Redaksi