Ketika IFI Jadi Kampung Seni

jelajahnusantara.co
Waya=ng Suket (Foto: Istimewa)

JELAJAH NUSANTARA - Institut Francais Indonesia (IFI) Surabaya biasanya identik dengan seminar. Dengan pidato serius. Dengan para profesor. Dengan slide presentasi yang bikin dahi berkerut.

Tapi Sabtu sore, 20 September 2025, jam tiga tepat, suasananya akan lain. Auditorium itu akan berubah jadi panggung tawa, panggung refleksi, panggung yang menyatukan tiga generasi dari sebuah kampung di ujung timur Surabaya: Gunung Anyar Emas.

Baca juga: Misteri Panji: Tari untuk Raja yang Tak Boleh Diketahui Rakyat

“Kalau biasanya orang datang ke IFI untuk mendengar teori, kali ini mereka akan pulang membawa senyum. Sekaligus pikiran yang melek,” ujar Meimura, seniman nyentrik yang juga pembimbing acara.

Sesi pertama dibuka oleh bocah 11 tahun: Dzaky Almair Jamil Octafiansah. Masih duduk di bangku SDN 628 Gunung Anyar Tambak. Tangan kecilnya akan memainkan Wayang Suket berjudul “Si Baik dan Si Jahat”. Cerita ini bukan karya dalang sepuh. Tapi lahir dari tangan muda Kibalok, disempurnakan Meimura.

Wayang rumput ini sederhana. Tapi dari kesederhanaannya lahir pertanyaan besar: siapa sebenarnya yang benar, siapa yang salah, siapa yang hanya berpura-pura baik.

Lalu panggung beralih ke generasi remaja. Oktaviano, 15 tahun, pelajar SMPN 12 Surabaya. Ia akan mengguncang auditorium dengan puisi Chairil Anwar: “Bung Karno, Mari Kita Bikin Janji.” Puisi legendaris itu, meski ditulis delapan dekade lalu, masih menusuk jantung persoalan hari ini: janji kemerdekaan, janji kebebasan.

Dari bocah, ke remaja, kini giliran mahasiswa. Hanifah Intan, 21 tahun. Baru lulus Ilmu Politik UIN Sunan Ampel. Ia memilih monolog: “Perempuan dan Demokrasi.”

Monolog itu bukan sekadar lakon. Ia adalah suara. Suara perempuan muda yang ingin didengar dalam ruang publik. Suara yang sering dikerdilkan. Dianggap tidak penting. Padahal, tanpa suara itu, demokrasi akan timpang.

Baca juga: Ketika Dunia Tegang, Indonesia Menawarkan Budaya

Penutupnya: sang pembimbing sendiri. Meimura. Dengan Ludruk Garingan. Lakon “Besut–Rusmini Sambang Sinambang.”

Besut, Rusmini, dan kritik sosial. Dikemas dengan gaya ludruk yang jenaka. Menggelitik. Menghibur. Tapi tetap tajam. “Ludruk itu bukan sekadar hiburan,” kata Meimura. “Ia adalah cermin sosial. Yang membuat kita tertawa, tapi juga berpikir.”

Acara ini digarap bersama Sanggar Anak Merdeka Indonesia (SAMIN). Panitia menyebut tujuannya sederhana tapi mulia: mempererat hubungan antar-lembaga, memperluas persaudaraan, memperkaya pengalaman seni.

Gratis. Tanpa tiket. Siapa saja boleh masuk.

Baca juga: Sawung Dance: Menari Bukan Lagi Soal Gerak

“Anggap saja ini kuliah terbuka,” tambah Meimura. “Bedanya, penonton tidak perlu bayar SKS. Cukup datang. Duduk. Menyimak. Dan pulang dengan hati ringan.”

Panggung IFI kali ini bukan sekadar tontonan. Ia adalah ruang pertemuan gagasan. Antara bocah, remaja, mahasiswa, dan seniman sepuh. Antara generasi yang lahir dari kampung sederhana dengan masyarakat yang datang dari berbagai penjuru Surabaya.

Mungkin beginilah seharusnya seni: jembatan. Yang menyatukan. Yang membuat kita merasa punya rumah yang sama.

Dan sore itu, di IFI Surabaya, rumah itu akan bernama: panggung lintas generasi.

Editor : Redaksi

Feature
Populer
Berita Terbaru