JELAJAH NUSANTARA - Setiap tahun menjelang Hari Raya Waisak, suasana khusyuk dan penuh kekhidmatan menyelimuti area Maha Vihara Mojopahit di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Rabu (7/5/2025), sejumlah warga dan umat Buddha tampak bahu-membahu membersihkan patung Buddha tidur yang menjadi ikon utama vihara tersebut. Patung berwarna keemasan itu memiliki ukuran yang mengagumkan—panjang 22 meter, lebar enam meter, dan tinggi 4,5 meter—dan merupakan salah satu patung Buddha tidur terbesar di Asia Tenggara. Pembersihan ini tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan, tetapi juga menjadi simbol penghormatan dan bentuk pengabdian spiritual jelang puncak perayaan Waisak 2569 Tahun Buddhis (TB).
Proses pembersihan dilakukan secara telaten dan penuh rasa hormat. Warga dan umat memanfaatkan kain lap, sikat halus, serta air bersih untuk mengusap seluruh permukaan patung, dari kepala hingga kaki. Bagian kepala patung yang menjadi titik fokus meditasi mendapat perhatian khusus. Aktivitas ini dilakukan secara bergiliran dan penuh kehati-hatian agar tidak merusak bagian patung yang menjadi warisan budaya sekaligus daya tarik wisata religi. Sambil membersihkan, beberapa umat juga melafalkan doa-doa dan mantra suci, memperkuat suasana spiritual yang mengiringi kegiatan tersebut. Tradisi ini sekaligus menjadi sarana mempererat kebersamaan dan gotong royong antarumat, serta menumbuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga kesucian tempat ibadah.
Baca juga: Menyusuri Jejak Majapahit di Mojokerto: Enam Candi, Enam Cerita dari Masa Lalu
Tradisi membersihkan patung Buddha tidur di Maha Vihara Mojopahit telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Buddha setempat. Selain sebagai ritual menjelang Waisak, kegiatan ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan dan peziarah yang datang untuk menyaksikan dan merasakan atmosfer sakral dari tempat tersebut. Peringatan Hari Raya Waisak sendiri merupakan momentum penting bagi umat Buddha untuk merefleksikan ajaran Sang Buddha, serta menebarkan cinta kasih dan kedamaian. Dengan terawatnya patung Buddha tidur secara rutin, masyarakat tidak hanya melestarikan fisik bangunan bersejarah, tetapi juga menjaga nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
Baca juga: Menyibak Rahasia di Bawah Lapangan Situs Bhre Kahuripan
Editor : Redaksi