Candi Brahu
JELAJAH NUSANTARA - Tak banyak kabupaten di Indonesia yang memikul nama sejarah sebesar Mojokerto. Dikenal sebagai Spirit of Majapahit, wilayah di kaki Gunung Penanggungan ini memancarkan aura masa lalu yang tak lekang oleh waktu. Julukan itu bukan sekadar semboyan, melainkan panggilan sejarah. Di sinilah, tepatnya di Trowulan, pernah berdiri pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit, imperium besar di abad ke-14.
Sejarah seolah menyembul dari balik tanah merah dan rerimbunan pohon. Mojokerto tak sekadar menyimpan prasasti dan artefak, tapi juga enam candi megah yang menjadi saksi bisu kejayaan Majapahit. Tak perlu pergi jauh ke pelosok, cukup di sekitar Trowulan, pengunjung bisa bertemu dengan masa lalu yang masih berdiri tegak.
1. Wringin Lawang, Gerbang Megah ke Masa Silam
Di Desa Jatipasar, gapura raksasa setinggi 15 meter berdiri kokoh: Candi Wringin Lawang. “Pintu Beringin,” begitu artinya dalam bahasa Jawa, merujuk pada pohon beringin yang dahulu menaungi sisi bangunan. Dulu, candi ini diyakini sebagai pintu masuk menuju pusat kota kerajaan. Kini, dengan tiket Rp4.000 untuk dewasa, wisatawan bisa melewati gerbang waktu, dari pagi hingga senja.
2. Bajang Ratu, Pintu Masa Muda Sang Raja
Beberapa kilometer dari sana, di Desa Temon, berdiri Candi Bajang Ratu—gapura lain yang tak kalah anggun. Namanya merujuk pada Raja Jayanegara, yang konon masih muda saat meninggal. Bajang berarti muda, dan Ratu adalah sang penguasa. Tiket masuknya terjangkau, hanya Rp3.000. Namun yang dibawa pulang dari sana adalah kisah cinta Majapahit pada para raja mudanya.
3. Brahu, Stupa Agung di Tanah Majapahit
Melangkah ke Desa Bejijong, Candi Brahu mencuat seperti stupa Buddha di tengah desa. Bentuknya bulat, tak seperti candi Hindu kebanyakan. “Brahu” diduga berasal dari “Wanaru” atau “Warahu” —nama bangunan suci dalam Prasasti Alasantan. Tak hanya terbesar di Trowulan, candi ini juga disebut sebagai tempat kremasi raja-raja Majapahit. Tiket masuknya? Hanya Rp3.000, tapi sejarah yang ditawarkan tak ternilai harganya.
4. Tikus, Tempat Pemandian Sang Penguasa?
Candi Tikus mungkin paling unik di antara semuanya. Struktur berundaknya membentuk kolam persegi yang mengingatkan kita pada ritual purification masa lalu. Namanya diberikan bukan karena bentuknya, tapi karena—kisahnya tak kalah menarik—dulu ditemukan saat gerombolan tikus keluar dari reruntuhan di tahun 1914. Tiket Rp3.000 membawa pengunjung menyelami sisa-sisa spiritualitas masa silam.
5. Gentong, Dua Wajah Satu Warisan
Candi Gentong lebih misterius. Terletak tak jauh dari Brahu, kompleks ini terdiri dari dua bangunan utama: Gentong I dan Gentong II. Yang satu lebih kecil dan sederhana, yang lainnya megah dan kompleks. Nama “Gentong” diberikan karena fragmen-fragmen gentong yang ditemukan di sekeliling gundukan tanah saat pertama kali ditemukan tahun 1889. Candi ini seolah mengajarkan bahwa sejarah bisa bermula dari serpihan kecil yang dianggap sepele.
6. Kedaton, Jejak Kaki dan Sumur Beracun
Yang terakhir adalah Candi Kedaton, satu-satunya yang buka 24 jam setiap hari. Lokasinya tersembunyi di Desa Sentonorejo, tak jauh dari Pendopo Agung. Yang tersisa hanya kaki candi, namun daya tariknya justru pada sebuah sumur tua yang dijuluki “Sumur Upas”. Konon, airnya beracun. Kini, sumur itu ditutup rapat. Namun kisahnya tetap hidup, beredar dari mulut ke mulut warga sekitar.
Mojokerto tak hanya tentang bangunan bata merah yang usang oleh waktu. Ia adalah pengingat—bahwa dari tanah ini, pernah lahir peradaban besar yang mengubah arah sejarah nusantara. Dan di setiap batu bata yang tersisa, tersimpan cerita yang tak pernah benar-benar selesai ditulis.
Bagi yang ingin menapaktilasi kejayaan Majapahit, Mojokerto menunggu dengan sabar. Tiket murah, udara hangat, dan sejarah yang begitu dekat, tinggal menunggu untuk disentuh kembali.
Editor : Redaksi