Hari Tari Indonesia: Gagasan yang Kandas di Panggung Sendiri

jelajahnusantara.co
Sebuah pertunjukan tari di Gedung Cak Durasim komplek Taman BUdaya Jawa Timur. (Foto: Dokumen Jelajah NUsantara)

JELAJAH NUSANTARA – Wacana menetapkan Hari Tari Indonesia yang sempat mengemuka beberapa waktu lalu kini nyaris lenyap tanpa jejak. Sebuah inisiatif baik dari para pelaku seni, khususnya Asosiasi Tari Indonesia, seolah mentok di ruang hampa. Tak ada respons dari pemerintah, apalagi dari kalangan akademisi yang sejatinya menjadi garda intelektual dunia seni tari.

Menurut Heri, seorang koreografer asal Surabaya, ketidaktertarikan ini mencerminkan ironi yang dalam. “Kita rajin memperingati Hari Tari Sedunia yang merujuk pada kelahiran tokoh ballet dari Barat, tapi ketika hendak merumuskan Hari Tari Indonesia sendiri, responnya dingin,” ujar Heri.

Baca juga: Topeng untuk Dunia: Diplomasi Budaya dari Jawa Timur

Ia menilai bahwa tanpa sadar, masyarakat tari Indonesia telah menjadi bagian dari arus globalisasi yang memuliakan narasi luar, namun abai terhadap akar sendiri. Padahal, jika Indonesia mampu melihat potensi besar ini, peringatan Hari Tari Nasional bisa menjadi momentum strategis dalam membangun karakter generasi emas.

Baca juga: Kain Warisan Leluhur Desa Wedani Gresik Penyumbang Devisa Negara

“Tari bukan hanya ekspresi tubuh, ia adalah pendidikan inderawi. Lewat gerak, disiplin dibentuk. Lewat rasa, spiritualitas ditumbuhkan,” imbuh Heri.

Sayangnya, pemerintah tampak lebih tergoda membangun yang kasat mata jalan, gedung, kawasan ekonomi. Padahal, fondasi bangsa maju bukan hanya beton dan angka PDB, melainkan karakter manusianya. Budaya, terutama tari, menyimpan potensi luar biasa untuk menanam nilai-nilai luhur sejak dini.

Baca juga: Rokok Elektrik Masih Menjadi Tren di Kalangan Masyarakat

Kini, wacana Hari Tari Indonesia tinggal debu di panggung yang tak kunjung dibuka. Para penari tetap bergerak, namun tanpa perayaan yang mencerminkan jati diri. Apakah pemerintah akan terus menunggu sampai panggung itu benar-benar kosong?

Editor : Redaksi

Feature
Populer
Berita Terbaru