Surabaya (Jelajahnusantara.co) – Indonesia dikenal dengan sebutan negara dengan sejuta budaya. Terdapat banyak budaya dan adat istiadat yang dimiliki Indonesia terangkum dalam satu gugusan budaya nusantara. Salah satu budaya yang menjadi tradisi dan melekat dalam kehidupan bermasyarakat yakni Tedhak Siten.

Tedhak Siten merupakan tradisi adat jawa yang familiar ditelinga masyarakat dengan nama turun tanah yakni merupakan upacara untuk bayi usia tujuh bulan.

Untuk terus mengangkat dan melestarikan kebudayaan Indonesia, sebuah sekolah di kawasan Surabaya Barat SMA Shafta Surabaya mengadakan acara Tedhak Siten saat jam belajar. Tradisi masyarakat jawa ini diaplikasikan ke dalam pendidikan muatan lokal guna memberikan edukasi tentang kearifan lokal kepada para siswa.

Purwo Rahadityo Wakasek Bidang Kurikulum SMA Shafta Surabaya mengatakan bahwa, melalui penerapan  pendidikan muatan lokal dalam dunia pendidikan seperti ini maka tradisi tedak siten ini bisa dijadikan kearifan lokal.

“Kita semua tahu, sekarang ini sangat minim generasi muda mau melestarikan kebudayaan Indonesia khususnya adat Jawa Timur. Dimana, mayoritas mengalami kondisi krisis moral. Anak muda kehilangan sopan santun,” tutur Purwo saat dijumpai di SMA Shafta Surabaya, Rabu, (13/02/19).

“Oleh karena itu, kita mencoba mengaplikasikan kebudayaan dan adat istiadat menjadi mata pelajaran di SMA Shafta Surabaya ini untuk pembelajaran. Karena ini merupakan tindakan positif dalam pendidikan untuk membangun karakter generasi muda yang bermartabat dan menjunjung tinggi nilai kesopanan, budaya, agama dan adat istiadat,” tambahnya.

Dijelaskan juga oleh Purwo, bahwa, tentunya tradisi yang dilakukan ini bukan hanya semata sebagai seremoni namun sarat dengan makna dalam kehidupan. Upacara adat yang dilakukan saat bayi berusia tujuh bulan ini memiliki tujuh prosesi dimana dalam setiap prosesi terdapat simbol yang mempunyai makna filosofis dalam kehidupan yang akan dijalani sang bayi. Maka dari itu pembekalan edukasi tentang muatan lokal ini sangat berguna bagi siswa dalam kehidupannya kelak di Masyarakat.

BACA JUGA  Warga Dieng Temukan Arca Ganesha Terbesar

Tedhak Siten memiliki langkah langkah seperti prosesi pertama yakni bayi dituntun untuk menapaki jadah atau berjalan di atas jenang yang terbuat dari ketan. Terdapat tujuh warna jadah yang dilewati bayi / mulai dari hitam, ungu, biru, hijau, merah, kuning dan putih. Prosesi ini mempunyai makna bahwa hidup berawal dari gelap dan berakhir dengan terang.

Prosesi kedua yakni bayi dipanjatkan tangga yang terbuat dari tebu. Tangga ibarat kehidupan dimana jika kita melangkah tidak sesuai alur yakni berjalan lurus ke atas maka akan terjatuh. Tebu difilosofikan dalam akronim dalam bahasa anteping kalbu atau ketetapan hati dalam menjalani kehidupan.

Prosesi ketiga bayi arahkan untuk menginjak tanah yang bermakna agar kelak sang bayi bisa memenuhi kehidupanya ketika dewasa. Prosesi selanjutnya adalah bayi dimasukkan ke dalam kurungan yang berisi berbagai macam barang. Kurungan melambangkan bahwa dunia ini terbatas dan dalam hidup harus mematuhi segala aturan yang ada. Barang yang didalam kurungan nantinya akan dipilih sang bayi yang melambangkan masa depan sesuai dengan barang yang dipilih.

Selanjutnya, Kakek dan ayah si bayi meyebarkan beras kuning bercampur dengan uang logam yang bermakna agar kelak sang bayi memiliki sifat dermawa.  Hal ini sesuai dengan adat jawa dan ajaran Islam dimana kita sebagai manusia harus saling berbagi kepada sesama habluminanas atau hubungan baik dengan manusia selain hubungan baik dengan Allah.

Prosesi ke enam adalah sang bayi dimandikan dengan air dari tujuh sumber Tujuh yang dalam bahasa jawa Pitu mengandung makna pitulungan atau pertolongan yang mempunyai harapan dalam hidup senantiasa mendapatkan pitulungan atau pertolongan. Prosesi terakhir yakni sang bayi dipakaikan pakaian baru yang bermakna agar bayi selalu sehat membawa nama harum orang tua dan hidup makmur. (Ty/Tls)

BACA JUGA  Permainan Tradisional “Gulat Okol” Satukan Persahabatan