Menyusuri Pute, Menjemput Rammang-Rammang

Rammang-Rammang: Negeri Elang di Balik Nipa

jelajahnusantara.co
Desa wisata Rammang-Rammang. (Foto: Wibowo)

JELAJAH NUSANTARA - Langit siang itu mendung sekali. Tapi di balik awan mendung, ada sembilan bayangan hitam melayang-layang. Elang. Terbang berputar di atas bukit batu, seperti menari. Seolah menuntun ke mana arah perjalanan kami harus berlabuh.

Motor perahu meraung pelan. Tak tergesa. Sungai Pute yang kami arungi memang tidak lebar, tapi tenang. Airnya kecokelatan. Bukan karena kotor, tapi karena cerita. Di kiri kanan, pohon nipa tumbuh rapat. Seperti pagar. Seperti lorong waktu, membawa kami ke masa yang lebih alami masa yang belum terjamah ambisi.

Baca juga: Lelaki Itu Tidak Lari, Catatan dari kaki Merapi

Empat kilometer panjangnya. Sekitar 40 menit perjalanan air. Tapi seperti tak terasa. Terlalu banyak pemandangan yang menyita perhatian. Bukit batu menjulang di kanan kiri, berdiri tegak seperti dinding raksasa. Tak ada yang dibuat-buat. Tak ada yang dipoles. Semua murni. Asli. Tuhan yang ukir.

"Sebentar lagi sampai, Kak," suara itu muncul dari depan. Remaja 16 tahun bernama Fajar. Tubuhnya kecil, tapi matanya penuh arah. Dialah yang mengantar kami menuju Desa Wisata Rammang-Rammang. Ia bukan pemandu wisata yang dibayar. Ia hanya anak kampung yang tahu arah. Yang paham alur. Yang mencintai tempat tinggalnya.

Kami berempat di atas perahu. Tapi yang menguasai perjalanan adalah keheningan. Setiap orang larut dalam imajinasinya sendiri-sendiri. Ada yang membayangkan petualangan Indiana Jones. Ada yang mengira sedang di Vietnam, menyusuri delta sungai Mekong. Tapi semua itu pupus ketika dari celah bukit muncul hamparan sawah. Hijau. Terbuka. Damai.

Baca juga: FOTO: Menjelang Waisak, Patung Buddha dan Ratu Shakya Hiasi Mal di Surabaya

Rammang-Rammang. Nama yang unik. Dalam bahasa setempat artinya "awan." Cocok, karena memang tempat ini selalu ditemani kabut tipis setiap pagi. Bukan kabut ketakutan, tapi kabut yang menenangkan. Kabut yang seperti selimut halus menutupi lembah dan pegunungan kapur.

Desa ini berada di Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Tak jauh dari Makassar, tapi suasananya jauh dari bising kota. Di sini, waktu seperti berjalan lebih lambat. Tidak ada bunyi klakson, tidak ada gedung tinggi. Hanya ada batu, pohon, air, dan langit.

Sesekali burung elang kembali melintas. Seolah memastikan kami baik-baik saja. Seolah menjaga kawasan ini dari tangan-tangan serakah yang bisa saja datang membawa alat berat.

Baca juga: Waisak di Borobudur, Simfoni Damai dalam Mandala

Kami tiba di dermaga kecil. Disambut senyum warga.

Fajar hanya menambatkan perahu, lalu pamit. Katanya ada rombongan lain yang harus dia antar sore nanti. Ia melambaikan tangan, lalu hilang di belokan sungai. Meninggalkan kami bersama Rammang-Rammang yang masih terus bercerita, meski dalam diam.

Editor : Redaksi

Feature
Populer
Berita Terbaru