Catatan dari kaki Merapi

Lelaki Itu Tidak Lari, Catatan dari kaki Merapi

jelajahnusantara.co
Musium Petilasan Mbah Maridjan (Foto: Wibowo/Jelajah Nusantara)

JELAJAH NUSANTARA - Saya masih ingat betul siang itu.

Bukan siang yang panas. Tapi juga bukan sejuk. Tapi yang saya rasakan bukan suhu. Melainkan sesuatu yang sulit dijelaskan: antara penasaran dan hormat. Antara ingin tahu dan ingin diam saja.

Baca juga: Menanjak Menuju Wening Kalbu: 251 Anak Tangga, Cahaya, dan Janji Sebuah Goa Maria

Saya naik pelan. Jalanan menanjak, tapi tidak curam. Asal tidak sombong, siapa pun bisa sampai ke atas. Tidak perlu banyak bicara. Tidak juga perlu banyak teori. Hanya perlu langkah pelan dan pikiran yang ringan.

Saya sampai di depan plang. Tulisannya: Musium Petilasan Mbah Maridjan.

Plangnya sederhana. Seperti tidak ingin mengganggu alam. Tidak ingin menonjol. Tapi cukup. Saya tahu, saya sudah sampai.

Di sisi kanan pintu masuk, ada foto besar. Ukuran 16R. Wajah itu tersenyum. Tenang. Seperti sudah tahu apa yang akan terjadi. Seperti tidak punya beban. Latar belakangnya Gunung Merapi. Gunung yang melahirkannya. Dan kemudian memanggilnya pulang.

Hari itu Sabtu, 31 Mei 2025. Bukan hari libur nasional. Tapi puluhan orang datang. Tanpa undangan. Tanpa acara. Mereka datang begitu saja. Berdiri. Duduk. Ada yang hanya diam. Ada yang memandangi langit. Mungkin sedang mengenang. Mungkin sedang bertanya dalam hati: kenapa Mbah Maridjan tidak lari?

Bangunan itu kecil saja. 6 x 10 meter. Tapi bukan soal luasnya. Soalnya adalah: di sanalah seseorang memilih untuk tidak menyelamatkan diri. Ketika semua lari, dia tetap. Ketika semua menghindar, dia sujud.

Nama aslinya Mas Penewu Suraksohargo. Tapi siapa yang mau repot-repot menyebut sepanjang itu? Kita semua mengenalnya sebagai Mbah Maridjan. Juru kunci Gunung Merapi. Tapi saya lebih suka menyebutnya: penjaga keyakinan.

Di depan rumah itu, berdiri pendopo. Joglo Hargo Merapi. Pilar-pilarnya ada 16. Angka yang sering dianggap keramat. Pendopo ini dibangun Keraton Yogyakarta. Sebagai tempat ritual tahunan gunung. Tempat di mana manusia datang, bukan untuk menaklukkan alam, tapi menyembahnya. Menghormatinya. Merendah di hadapannya.

Di samping petilasan, ada warung kecil. Dindingnya dari papan. Warung itu dijaga Bu Panut, anak perempuan Mbah Maridjan.

Ia menyeduh teh. Saya duduk. Kami bicara. Pelan. Seperti takut mengganggu suasana.

“Makam bapak bukan di sini, Mas,” katanya. “Tapi di Serunen. Tiga kilometer dari sini. Ini cuma petilasan. Di sini bapak sujud. Dan meninggal.”

Baca juga: FOTO: Pesona Pantai Sine Tulungagung: Teluk Eksotis di Ujung Timur JLS

Saya diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Kadang, tidak semua jawaban butuh kata-kata. Kadang, diam adalah satu-satunya bentuk penghormatan.

Saya berdiri di halaman petilasan. Melihat sekeliling. Tidak ada kemegahan. Tidak ada papan informasi panjang. Tapi semua orang tahu: di sinilah lelaki itu membuat keputusan paling penting dalam hidupnya untuk tidak pergi.

Awan panas datang subuh-subuh. Semua orang lari. Tapi Mbah Maridjan tetap. Ia tahu apa yang ia hadapi. Tapi ia juga tahu, ada yang lebih penting dari selamat: setia.

Satu rombongan datang dari Probolinggo. 55 orang. Naik bus. Dari koperasi pegawai. Ibu Lutfiati, salah satu dari mereka, berdiri di depan rumah kecil itu. Melihat mobil yang hangus. Lalu berkata lirih, “Berarti awan panas itu panas sekali, ya. Mobil saja bisa seperti itu…”

Saya tidak membalas. Saya hanya ikut menunduk.

Di tempat ini, suhu tidak terasa lewat kulit. Tapi lewat hati. Panasnya adalah cerita. Debunya adalah kenangan. Dan senyapnya adalah pelajaran.

Baca juga: Tomboan: Di Sini Kita Tidak Sekadar Berkunjung, Tapi Belajar Pulang

Saya tidak tahu, apakah Mbah Maridjan takut atau tidak waktu itu. Tapi saya yakin: ia tidak lari. Bukan karena tidak sempat. Tapi karena memang tidak ingin.

Ia bukan orang biasa. Tapi juga bukan orang luar biasa. Ia bukan pemimpin besar. Tapi ia tahu betul, kalau semua lari, siapa yang akan tinggal?

Kita bisa menyebutnya juru kunci. Tapi menurut saya, dia lebih dari itu. Ia adalah simbol dari keteguhan yang tidak ribut. Dari keberanian yang tidak panggung. Dari kepercayaan yang tidak bisa dibeli.

Dan lihatlah sekarang. Ia sudah lama tiada. Tapi orang masih datang. Satu per satu. Tanpa disuruh. Tanpa diiming-imingi tiket gratis. Mereka datang dengan kepala tertunduk. Dengan rasa penasaran. Dan mungkin, diam-diam, ingin belajar sesuatu dari lelaki tua itu.

Di negeri yang setiap hari sibuk memperdebatkan siapa yang paling benar, Mbah Maridjan mengajari kita bahwa kadang yang paling benar adalah yang paling diam.

Ia tidak lari. Ia juga tidak marah. Ia hanya tinggal.

Dan dalam keputusannya yang sederhana itu, ia abadi.

Editor : Redaksi

Feature
Populer
Berita Terbaru