JELAJAH NUSANTARA – Candi Borobudur kembali menjadi pusat perhatian dunia. Pada 12 Mei 2025 mendatang, ribuan umat Buddha dari berbagai penjuru dunia akan berkumpul di monumen agung peninggalan abad ke-9 itu untuk merayakan Hari Raya Trisuci Waisak. Tak hanya menjadi ritual keagamaan, perayaan ini juga memancarkan nilai spiritual, budaya, dan sejarah yang mendalam.
Sudah menjadi tradisi sejak 1929, Candi Borobudur menjadi lokasi utama peringatan Waisak. Bukan tanpa alasan. Bangunan megah yang berdiri di antara Gunung Merapi dan Merbabu ini bukan sekadar situs bersejarah. Ia adalah simbol pencarian pencerahan dan kedamaian, seperti yang diajarkan Siddharta Gautama.
Baca juga: Akara: Potret Identitas dari Balik Lensa
Mengutip dari situs resmi Kemdikbud, struktur Borobudur yang berbentuk mandala mencerminkan perjalanan manusia menuju kebijaksanaan tertinggi. Setiap relief dan tingkatan candi seakan mengisahkan lintasan hidup dari dunia fana menuju Nirwana. Sebuah refleksi ajaran Buddha yang diwujudkan dalam batu.
Peringatan Waisak sendiri memuat makna Trisuci: kelahiran Siddharta Gautama, pencapaian Penerangan Sempurna sebagai Buddha, dan wafatnya dalam Maha Parinibbana. Ketiganya dirayakan dalam suasana yang khidmat namun penuh cahaya secara harfiah maupun maknawi. Prosesi dimulai dari Candi Mendut, menyusuri jalan menuju Borobudur dengan membawa lentera dan doa dalam diam.
Baca juga: Yogyakarta: Sebuah Keistimewaan yang Berakar dari Sejarah dan Perjuangan
Tradisi ini sempat terhenti beberapa kali, antara lain karena perang kemerdekaan dan proyek pemugaran Borobudur. Namun, semangat untuk menjaga perayaan ini tetap hidup tak pernah padam. Kembalinya Waisak ke Borobudur setelah pemugaran menjadi titik balik kebangkitan spiritual umat Buddha di Indonesia.
Tak hanya menjadi hari suci, Waisak di Borobudur juga menjadi ajang refleksi bagi semua umat manusia. Saat lentera dilepaskan ke langit malam, tersirat harapan akan dunia yang lebih damai, manusia yang lebih bijak, dan hidup yang lebih penuh welas asih.
Baca juga: FOTO: Pesona Budaya Probolinggo dalam Derap Lomba Kerapan Sapi Brujul
Bagi Borobudur, Waisak bukan hanya tentang ziarah atau tradisi. Ia adalah napas sejarah yang terus menyatu dengan kehidupan spiritual masa kini. Di antara batu-batu tua dan doa yang melangit, Waisak di Borobudur adalah kisah keabadian tentang pencarian cahaya di tengah dunia yang tak pernah hening.
Editor : Redaksi