Malam Tanpa Akhir di Arjuno: Ketika Pendaki Menghilang dari Jalur dan Mendengar Pesta Para Penghuni Gunung

jelajahnusantara.co
Ilustrasi Gunung Arjuno (Istimewa)

JELAJAH NUSANTARA – Langit di atas Gunung Arjuno malam itu gelap tanpa bulan. Hanya cahaya senter yang memecah pekatnya hutan di jalur pendakian Tretes. Sekelompok pendaki yang baru saja turun dari puncak tidak menyadari bahwa malam itu akan menjadi pengalaman paling mengerikan dalam hidup mereka.

Jarum jam menunjukkan pukul 22.30 WIB ketika kabut turun secara tiba-tiba. Dalam hitungan menit, jalur yang semula terlihat jelas berubah menjadi lorong putih yang menelan pandangan. Udara terasa lebih dingin dari biasanya. Angin yang semula berembus pelan mendadak berhenti. Hutan menjadi sunyi. Terlalu sunyi.

Di tengah kesunyian itu, terdengar suara ramai dari kejauhan.

Awalnya mereka mengira suara pendaki lain yang sedang beristirahat. Namun semakin lama, suara itu semakin jelas. Ada orang bercakap-cakap, suara tawar-menawar, tawa anak-anak, hingga dentingan benda seperti aktivitas pasar malam. Padahal menurut peta dan GPS, lokasi mereka berada di tengah sabana yang kosong tanpa satu pun tenda pendaki.

Salah seorang anggota rombongan mencoba mengarahkan senter ke sumber suara. Di kejauhan, tampak puluhan titik cahaya berkelap-kelip seperti lampu minyak. Cahaya itu bergerak perlahan di antara kabut.

“Jangan dilihat terlalu lama,” bisik seorang pendaki yang lebih senior.

Namun peringatan itu terlambat.

Salah satu anggota rombongan mendadak berjalan sendiri menuju arah cahaya. Matanya kosong. Wajahnya pucat. Ia seperti sedang mengikuti seseorang yang tak terlihat. Beruntung dua rekannya segera menarik tubuhnya sebelum menghilang ke balik kabut.

Malam semakin mencekam.

Dari arah hutan terdengar suara gamelan mengalun pelan. Nadanya lirih, seperti iringan pesta pernikahan kuno. Anehnya, suara itu terdengar semakin dekat meski tak ada satu pun manusia di sekitar mereka. Beberapa pendaki mengaku mencium aroma bunga melati yang sangat kuat bercampur bau dupa yang menusuk hidung.

Tak lama kemudian, mereka melihat sosok perempuan berambut panjang berdiri di antara pepohonan.

Tubuhnya diam.

Tidak bergerak.

Hanya berdiri menatap dari kejauhan.

Ketika senter diarahkan ke sosok tersebut, ia menghilang begitu saja.

Panik mulai menguasai rombongan. Mereka memutuskan mempercepat langkah turun. Namun setiap kali berjalan, mereka justru kembali ke tempat yang sama. Sebuah pohon besar berakar menjulang menjadi penanda yang terus mereka temui berulang kali.

Satu jam.

Dua jam.

Tiga jam.

Mereka merasa seperti berjalan tanpa pernah benar-benar berpindah tempat.

Hingga menjelang pukul 03.00 WIB, suara-suara aneh itu tiba-tiba berhenti. Kabut perlahan menipis. Jalur pendakian kembali terlihat. Saat memeriksa GPS, mereka terkejut mengetahui bahwa selama berjam-jam tersesat, posisi mereka ternyata hanya bergeser sekitar 200 meter dari lokasi awal.

Sesampainya di pos pendakian, seorang warga setempat hanya tersenyum ketika mendengar cerita mereka.

“Kalau mendengar pasar ramai atau gamelan di Arjuno, jangan pernah mendekat,” katanya pelan. “Belum tentu itu manusia.”

Hingga kini kisah tentang Pasar Setan, suara gamelan misterius, dan sosok-sosok tak dikenal di Gunung Arjuno masih menjadi cerita yang terus beredar di kalangan pendaki. Sebagian menganggapnya sekadar mitos. Namun bagi mereka yang pernah mengalaminya, malam di Arjuno adalah pengingat bahwa tidak semua penghuni gunung bisa dilihat oleh mata manusia.

 

Editor : Redaksi

Feature
Populer
Berita Terbaru