JELAJAH NUSANTARA - Langkah-langkah kecil yang selama ini ditempuh Meimura melalui gerakan Jelajah Deso Milangkori rupanya mulai menarik perhatian kalangan pemerhati budaya nasional. Dari panggung-panggung sederhana di desa, kesenian Besutan kini mendapat kesempatan tampil di forum internasional dalam Seminar dan Festival Internasional Tradisi Lisan (LISAN XIII) yang akan digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 5–8 Agustus 2026.
Undangan itu datang dari Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), organisasi yang selama puluhan tahun aktif menjaga keberlangsungan tradisi lisan Nusantara. Bagi Meimura, kesempatan tersebut bukan sekadar tampil di hadapan peserta dari berbagai daerah dan negara, melainkan membawa sebuah misi yang lebih besar: memperkenalkan kembali Besutan sebagai ruh awal lahirnya ludruk.
Baca juga: Pantai Papuma Jember, Permata Laut Selatan yang Tak Pernah Kehilangan Pesonanya
“Sebagai pegiat budaya, tentu ini sebuah kehormatan tersendiri. Saya bersyukur Besutan mendapat ruang untuk hadir dalam forum yang mempertemukan banyak pegiat tradisi lisan dari berbagai daerah dan negara,” ujar Meimura.
Di tengah derasnya arus hiburan modern, keberadaan ludruk kini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Regenerasi yang berjalan lambat, berkurangnya panggung pertunjukan, hingga bergesernya minat generasi muda membuat salah satu kesenian khas Jawa Timur itu berada dalam situasi yang memprihatinkan. Dalam kondisi itulah Besutan hadir sebagai jalan alternatif.
Berbeda dengan ludruk yang membutuhkan perangkat pertunjukan lebih besar, Besutan tampil lebih sederhana. Ia bisa dimainkan di ruang-ruang kecil, di tengah masyarakat, bahkan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah. Kelenturan inilah yang membuat Besutan dianggap lebih adaptif untuk menjangkau generasi masa kini tanpa kehilangan akar tradisinya.
Baca juga: FOTO: Pesona Pantai Sine Tulungagung: Teluk Eksotis di Ujung Timur JLS
Wakil Ketua ATL Jawa Timur, Henri Nurcahyo, melihat kehadiran Besutan dalam forum internasional sebagai kesempatan untuk memperluas percakapan tentang masa depan ludruk. Menurutnya, pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan dengan mempertahankan bentuk lama secara utuh, tetapi juga melalui cara-cara baru yang tetap menjaga nilai dan semangat aslinya.
“Rencana kehadiran Meimura dengan Besutannya di forum internasional ini memiliki makna penting untuk menggugah kepedulian kalangan yang lebih luas perihal keberadaan ludruk yang semakin tergerus perubahan zaman,” kata Henri, yang juga dijadwalkan menyampaikan makalah berjudul Menyalakan Api Ludruk Melalui Besutan.
Forum LISAN XIII sendiri mengangkat tema Peranan Tradisi Lisan sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam Merawat Kemanusiaan, Alam dan Kehidupan dari Masa Lalu ke Masa Depan. Peserta direncanakan datang dari berbagai daerah di Indonesia, serta negara-negara seperti Singapura dan India. Di tengah keberagaman tradisi yang akan ditampilkan, Besutan membawa cerita tentang upaya masyarakat Jawa Timur menjaga warisan budayanya tetap hidup.
Baca juga: Panggung untuk Leluhur: Wayang Panji Kembali Hidup di Kota Malang
Perjalanan menuju Jakarta memang belum sepenuhnya mudah. Panitia hanya menanggung biaya seminar dan konsumsi selama kegiatan berlangsung, sementara transportasi dan akomodasi masih harus diupayakan secara mandiri. Namun bagi Meimura, perjalanan itu terasa lebih dari sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan membawa suara ludruk dari kampung-kampung Jawa Timur menuju panggung dunia, agar nyalanya tidak padam ditelan zaman.
Editor : Redaksi