Menjelajahi Paskah dan Budaya di Ujung Timur Flores

jelajahnusantara.co
Menjelajahi Paskah dan Budaya di Ujung Timur Flores. (Foto: Indonesia Kaya)

JELAJAH NUASANTARA – Julukan "Kota Maria" bukan sekadar identitas religius bagi Larantuka, kota kecil yang berada di ujung timur Pulau Flores. Setiap menjelang Paskah, nuansa kota ini berubah. Jalan-jalan dipadati umat Katolik dan wisatawan dari berbagai penjuru. Mereka datang tak hanya untuk beribadah, tapi juga untuk meresapi tradisi sakral yang telah hidup lebih dari lima abad: Semana Santa.

Festival religius ini dimulai sejak Rabu Trewa, malam pertobatan yang penuh haru. Kemudian dilanjutkan dengan Kamis Putih, di mana suasana hening menyelimuti kota. Dan berpuncak pada arak-arakan Tuan Menino patung kecil Yesus yang dimuliakan dan dibawa berkeliling dengan penuh penghormatan. Tak hanya ritual keagamaan, Semana Santa adalah momentum kebudayaan. Larantuka menjelma menjadi panggung kehidupan spiritual yang nyaris tak tergantikan di Indonesia.

Baca juga: Kidung Tengger dan Tabuhan Doa dari Perut Gunung

Bagi Febrian, seorang pelancong yang mengunjungi Larantuka saat Semana Santa, pengalaman ini jauh lebih dalam dari sekadar liburan rohani. Kekagumannya justru merambah ke desa-desa di seberang laut.

Salah satunya adalah Desa Wulublolong di Pulau Solor. Desa ini menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa, terutama lewat tangan-tangan perempuan penganyam daun lontar. Di tengah rumah-rumah sederhana, para ibu duduk bersila, sibuk mengolah lembar demi lembar daun menjadi dompet, tas, bahkan sepatu.

Baca juga: Rammang-Rammang: Negeri Elang di Balik Nipa

Yang menarik, anyaman-anyaman itu bukan sekadar kerajinan tangan. Mereka adalah simbol ketekunan, ketahanan, dan kekuatan perempuan desa. Komunitas Du’Anyam, yang berarti “perempuan penganyam” dalam bahasa lokal, kini membawa hasil karya mereka ke panggung nasional, bahkan internasional.

“Setiap anyaman adalah cerita,” ungkap Febrian, terkesima melihat proses yang begitu telaten namun penuh makna. “Budaya di sini bukan untuk dipertontonkan, tapi untuk direnungkan.”

Baca juga: Lelaki Itu Tidak Lari, Catatan dari kaki Merapi

Larantuka bukan hanya kota dengan sejarah Katolik yang kuat. Ia adalah kota yang hidup, yang napasnya terdiri dari doa, anyaman, dan cinta akan tradisi. Semana Santa mungkin menjadi magnet utama, namun desa-desa seperti Wulublolong adalah detak jantung yang menghidupkan wajah budaya Flores Timur.

Di Kota Maria ini, spiritualitas dan budaya tak pernah lelah menyapa setiap peziarah maupun pelintas jalan. Sebuah pelajaran bahwa warisan leluhur akan terus menyala, selama masih ada yang mencintai dan menjaga.

Editor : Redaksi

Feature
Populer
Berita Terbaru