JELAJAH NUSANTARA — Di tengah terik matahari yang menyengat, suara ketukan palu dan gesekan gergaji terdengar bersahut-sahutan dari Kampung Nelayan Lumpur, Gresik, Jawa Timur. Kamis (15/5/2025), sejumlah warga terlihat sibuk menata kayu, menyambung lambung perahu, dan memperhalus permukaan kapal dengan penuh ketelitian. Di kampung pesisir ini, perahu bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah nadi kehidupan.
Bagi para nelayan di pesisir Lumpur, perahu menjadi sarana utama dalam mencari nafkah di laut. Tanpa perahu, kehidupan akan terasa mandek. Tak heran jika perawatan dan pembuatan perahu menjadi aktivitas vital yang tak pernah sepi.
Baca juga: Rumah Kayu Gaya Kabin, Hunian Favorit di Tengah Hutan yang Makin Modern
Rekondisi perahu lama menjadi salah satu pilihan yang kerap diambil para nelayan. Proses perbaikan ini biasanya memakan waktu sekitar satu bulan. Dengan biaya antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta, nelayan bisa kembali melaut dengan perahu yang lebih kokoh, tergantung dari tingkat kerusakan yang dialami.
Namun, bagi yang memiliki modal lebih, pembuatan perahu baru menjadi opsi jangka panjang. Tak tanggung-tanggung, proses pembuatannya bisa berlangsung antara 3 hingga 6 bulan. Biayanya pun cukup besar, mulai dari Rp 20 juta hingga Rp 200 juta, bergantung pada ukuran dan spesifikasi yang diinginkan. Semakin besar dan kuat perahu yang dibuat, semakin besar pula investasi yang harus disiapkan.
Baca juga: Tari Remo Kampung Bakat Meriahkan Bukber Group Astra Surabaya
“Kalau untuk perahu besar, ya bisa sampai enam bulan buatnya. Tapi tahan lama, bisa dipakai bertahun-tahun,” ujar salah satu perajin perahu di kampung tersebut.
Perahu-perahu yang dibuat di Kampung Lumpur tak hanya digunakan oleh nelayan lokal, tapi juga sering dipesan dari daerah lain di sekitar Gresik. Keahlian warga dalam merakit perahu secara tradisional menjadi daya tarik tersendiri. Tak hanya kuat, tapi juga sarat nilai budaya dan kearifan lokal.
Baca juga: Bangkitkan Wisata Perahu Kalimas Surabaya, Smartfren Tebarkan Ribuan Ikan Nila
Dalam tiap serat kayu perahu, tersimpan harapan besar bahwa esok laut tetap ramah dan rezeki tak putus mengalir dari ombak. Bagi warga Kampung Lumpur, perahu bukan hanya alat. Ia adalah simbol ketangguhan dan harapan di tengah kerasnya kehidupan pesisir.
Editor : Redaksi