JELAJAH NUSANTARA - Saya datang agak sore. Tapi saya tidak sendiri. Ratusan orang lain juga sudah lebih dulu berdatangan ke Taman Candra Wilwatikta, Pandaan, Pasuruan. Mereka membawa sesuatu di tangan bukan tiket, bukan juga bekal makanan. Tapi bibit pohon.
Ada yang membawa jati kecil dalam pot hitam. Ada yang menenteng trembesi yang masih kurus. Ada juga yang dengan bangga menunjukkan bibit mangga lokal katanya, ini mangga paling manis di desanya.
Malam itu, Jumat 19 April 2025, gunung seakan turun ke panggung. Atau panggung yang naik ke gunung. Namanya: Jambore Seni Lereng Gunung. Sebuah nama yang sederhana. Tapi jangan tanya isinya.
Lampu-lampu menyala. Musik keroncong menggema. Tari kontemporer bergerak seirama semilir angin. Pertunjukan yang tak hanya dipentaskan, tapi dirasakan. Semuanya menyatu di kaki Gunung Arjuna Welirang, dalam satu harmoni yang jarang bisa dilihat di kota.
Tiketnya? Cukup satu bibit pohon. Dan itu bukan gimmick. Bibit-bibit itu akan ditanam betulan di kawasan konservasi yang sudah terlalu lama dikeruk dan dilupakan.
“Ini baru namanya nonton sambil menanam,” celetuk seorang ibu di sebelah saya. Namanya Ratna Wulandari. Ia datang dari Sidoarjo, membawa dua anak remajanya. “Biasanya kalau ngajak anak ke pertunjukan seni, mereka bosan. Tapi tadi waktu serah bibit, mereka semangat banget,” katanya tertawa.
Anak-anak itu, katanya, baru tahu bahwa menanam bisa semenyenangkan ini. Bahwa menjaga bumi tidak harus lewat pidato panjang atau seminar dingin di ruang AC.
Langit malam di Pandaan tampak lebih rendah. Seolah ingin ikut menonton. Di antara lampu panggung dan siluet pepohonan, saya melihat sesuatu yang jarang saya lihat di acara seni lain: keterlibatan yang nyata.
Penonton bukan cuma menonton. Mereka juga menanam. Dan entah kenapa, saya merasa, mereka juga sedang merenung. Bahwa bumi ini bukan warisan. Tapi titipan.
Ada yang bilang: seni tidak bisa mengubah dunia. Tapi malam itu, saya merasa seni bisa menumbuhkan harapan. Lewat sebatang pohon kecil. Lewat tepuk tangan yang tidak hanya untuk seniman, tapi juga untuk semesta.
Malam itu, seni tidak hanya dipentaskan. Ia ditanam.
Editor : Redaksi