Temuan Bata Raksasa di Mojokerto Picu Dugaan Jejak Kerajaan Medang Abad ke 10

Jejak Peradaban Tua di Mojokerto: Bata Kuno Tersingkap di Halaman Rumah Warga

jelajahnusantara.co
Temuan Bata Raksasa di Mojokerto

 

JELAJAH NUSANTARA — Di tanah yang lama diam, suara masa lalu kadang muncul tanpa aba-aba. Di Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, suara itu datang dari kedalaman bumi dari lubang selebar satu meter yang semula diniatkan sebagai septic tank.

Baca juga: Sorak-Sorai Sandur: Ketika Budaya Lokal Menaklukkan Penonton

Awal Maret lalu, Edy Prayitno, penghuni Perumahan Canggu Permai, tak pernah menduga bahwa halaman rumahnya menyimpan teka-teki berusia ratusan tahun. Bukan logam mulia atau artefak berhias emas, melainkan susunan bata merah bisu, besar dan berat, yang tiba-tiba menyibak lembaran sejarah yang sempat terlipat rapi.

Ukuran batanya tak biasa: panjang 46 sentimeter, lebar 30 sentimeter, dan tebal 11 sentimeter. Terletak empat lapis dari timur ke barat, dengan serpihan gerabah, keramik, dan batu andesit kemerahan mengelilinginya. Semua tersembul di kedalaman 2,5 meter cukup dalam untuk menyimpan rahasia, tapi cukup dangkal untuk ditemukan kembali.

“Ini bukan sekadar bata,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Mojokerto, Riedy Prastowo, saat dihubungi, Minggu, 20 April 2025. Temuan ini, lanjut Riedy, langsung menarik perhatian tim gabungan dari Dinas Kebudayaan dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI.

Kajian awal membuka hipotesis yang berani: susunan bata itu diduga berasal dari era sebelum Majapahit, kemungkinan dari masa Mpu Sindok, pendiri dinasti Isyana yang memindahkan pusat Kerajaan Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sekitar tahun 929 Masehi. “Bentuk dan ukuran batanya menyerupai bata di Candi Gunung Gangsir,” kata Riedy, merujuk pada salah satu peninggalan dari abad ke-10 di Pasuruan.

Baca juga: Menyibak Rahasia di Bawah Lapangan Situs Bhre Kahuripan

Jika dugaan ini benar, maka halaman rumah Edy bukan sekadar lahan hunian, melainkan fragmen kecil dari lanskap peradaban awal Jawa Timur. Mojokerto, yang selama ini dikenal sebagai jantung Majapahit, perlahan mulai menunjukkan lapisan-lapisan sejarah yang lebih tua, lebih dalam, dan mungkin lebih kompleks dari yang kita bayangkan.

Cerita ini belum utuh. Struktur asli bangunan belum terungkap. Luasnya belum terukur. Yang terlihat baru permukaannya secuil potongan dari masa lalu yang mengintip lewat retakan tanah modern. “Diduga ini bagian dari bangunan yang lebih besar,” ujar Riedy. Ia menambahkan, berdasarkan penuturan warga, dulu Desa Canggu dikenal sebagai pelabuhan penting di masa awal berdirinya Majapahit.

Penggalian septic tank kini dihentikan. Disbudporapar meminta waktu untuk survei arkeologis lanjutan. Beberapa warga bahkan mulai membuka ingatan lama. “Dulu saya pernah menemukan batu serupa saat menggali sumur, tapi ditimbun kembali,” kata seorang tetangga Edy, lirih.

Baca juga: Empat Kerangka Manusia Ditemukan di Situs Kumitir Mojokerto

Di Mojokerto, tanah tak pernah benar-benar diam. Setiap galian, sengaja atau tidak, berpeluang membuka bab baru dari sejarah yang belum selesai ditulis. Temuan di Canggu ini bukan hanya soal bata. Ini soal bagaimana masa lalu hadir diam-diam, menunggu dipahami kembali. Bukan sebagai nostalgia, tapi sebagai pelajaran tentang jejak kita yang paling awal.

Dan seperti biasa, sejarah kerap ditemukan bukan di museum atau laboratorium, melainkan di halaman rumah, di sela rutinitas, di lubang kecil yang tak disangka-sangka.

Editor : Redaksi

Feature
Populer
Berita Terbaru